Sunday, 11 May 2008

BBM naik Lagi

BBM naik. Ini terdengar jauh lebih serem dari pada ‘Ternyata Chelsea Olivia punya buntut’. Rakyat komat-kamit, berdoa agar BBM enggak naik. Mahasiswa pada Demo ke jalan-jalan, memperjuangkan suara perut. Ibu-ibu pada demo juga, demo sambil arisan. Harga BBM naik, itu sama artinya dengan : Ongkos angkot naik, Uang kos naik, harga Sandal jepit naik, harga makanan naik, mungkin cuma buntut sapi yang turun. Iyalah, eh tapi asik juga kalo buntut sapi tuh naik, kan bisa diadakan pertandingan beladiri sapi dengan buntut sebagai senjata. Dan pemenangnya bakal nikah ama Sapi tercantik di desanya. Wow, partanyaannya: Emang ada Sapi yang kece? Perasaan mukanya sapi sama semua deh..tapi kalo ada sapi berwajah Nicole Kidman saya mau tuh..


Oke Masalah sapi selesai. Balik ke masalah awal: BBM.


Barang yang satu itu emang gila. Seenak udelnya mengganggu kestabilan harga. Siapa yang patut disalahkan atas hal ini? Tak lain dan tak bukan adalah PENEMU BBM, dia salah karena menjadikan Minyak sebagai bahan bakar. Salah besar!! Udah tau minyak tuh bakal habis, udah tau Minyak adalah SDA yang tak terbarukan, eh masih nekat aja dia pake minyak sebagai BBM. Dia udah menjebak umat manusia dalam kemelaratan, dia udah menjebak saya dalam lingkaran kenaikan uang kos yang menyiksa. Oh no! Coba aja si Penemu itu pake Air sebagai Bahan bakar, pasti semuanya beres. Misal bahan bakar abis di tengah jalan, tinggal cari WC terdekat, tapi jangan ambil tokainya lhow, ambil airnya buat bahan bakar. Kalo mobil kehabisan bahan bakar di tengah gurun pasir yang panas, dimana air hanyalah fatamorgana, gampang solusinya. Tinggal Pipis bareng aja, dan mobil bakal jalan lagi. Pipis bareng = Masalah selesai. Usul buat pemerintah, BBM diganti ama BBA (Bahan Bakar Air)


Tapi ada untungnya kalo BBM mahal. Coba bayangin jika harga BBM adalah Rp2000.000/ per liter. Saya yakin, bumi Indonesia ini bebas polusi. Enggak ada orang yang bakal beli kendaraan bermotor kecuali orang bego. Dia bakal mikir seratusjuta kali buat beli motor, mikir duaratus juta kali kalo mau beli mobil. Enggak ada lagi anak-anak SMP cemen yang udah gegayaan pake motor, sok pake-pake mobil, sok pake-pake pentungan Satpam (Enggak nyambung). Enggak ada! Enggak ada kemacetan! Budaya hidup sehat bakal memasyarakat. Budaya jalan kaki bakal booming. Rakyat Indonesia bakal sehat semua. Mau bukti? Coba kita simak percakapan dua remaja jogja, Andi dan Maki di bawah ini:


Andi : Eh, besok Jalan-jalan ke Bandung yuk!

Maki : Waaah, bandung? Maumaumau..pasti ceweknya cakep-cakep!

Andi : Pastilah!

Maki : jam berapa kita berangkat?

Andi : Jam tujuh pagi aja!

Maki : Oke deh, Bungkus!

Esoknya mereka mengerungi lintasan Jogja-Bandung dengan… JALAN KAKI!

Mereka pasti bakal tumbuh menjadi remaja yang kuat dan sehat! PASTI!


Eh, tiba-tiba ada yang nyolek saya.

“Mas Abi, maaf!” Yang nyolek saya adalah Luna Maya. Uwwwooh!! Saya grogi.

“Eh, mbak Luna. Kenapa Mbak?” Iih..kece banget..

“Saya cuma mau bilang, hanya ada satu kmungkinan ketika Andi dan Maki pergi ke bandung dengan jalan kaki.” Wah, ternyata Mbak Luna kritis juga.

“Apa saja kemungkinan itu Mbak?”

“Dia bakal sampe di bandung dengan kaki terputus, karena kakinya ketinggalan di Brebes dan kota-kota lainnya.”

Saya berdecak kagum. Sebuah analisa yang logis dan mengagumkan dari seorang Luna Maya. Wow, tak hanya cantik, dia juga pinter.


Yah, pokoknya Kenaikan BBM pasti ada untung dan ruginya. Untung buat pengusaha BBM dan Rugi buat rakyat jelata. Sial. Menurut saya, enggak apa-apa BBM naik. Tapi harga-harga yang lain jangan naik doooonk…harga eskrim juga jangan naiiiik….huhuhu…


Ganti BBM dengan BBA

-Abie With Love-

Thursday, 1 May 2008

Ududh oh Ududh..


Seorang teman pernah bertanya, “emang kenapa kalo cewek merokok? Apa gara-gara image?”


Widih..pertanyaan ini mengguncang dunia persilatan.


Oke deh, saya jabarkan dalam sudut pandang saya.


Pemikiran masyarakat terikat dalam sebuah mind-set. Dan kadang mind-set itu sedikit kejam. Mau contoh? Contohnya adalah :


Seorang bapak berkata“Eh, setrikanya rusak nih! Kamu kan mahasiswa teknik Elektro. Benerin dong!” ternyata si Mahasiswa enggak bisa benerin. Apa kata si Bapak? “Malu-maluin, anak elektro kok enggak bisa betulin barang sepele kaya gini!” Ehm, nah dalam pikiran si Bapak terdapat sebuah hukum bahwa Mahasiswa Elektro pasti mahir dalam hal elektronika. Padahal: Belum tentu! Banyak juga hukum-hukum lain kaya : Orang teknik mesin pasti mahir di otomotif, anak ekonomi pasti pinter akuntansi. Padahal: BELUM TENTU! Inilah hukum masyarakat, kejam dan pukul rata.


Sama kasusnya pada cewek yang merokok. Udah jadi pandangan umum bagi masyarakat kalo ada cewek yang merokok berarti cewek enggak bener, imagenya jelek. Karena udah termind-set di masyarakat kalo yang pantas merokok itu cowok, cewek enggak pantes, dan cewek yang merokok adalah cewek enggak bener. Padahal : belum tentu! Hukum masyarakat Ini enggak bisa dipungkiri. Masyarakat mengambil beberapa sampel yang buruk, namun dipukul ratakan ke semua orang yang melakukannya. Masyarakat mengambil beberapa contoh cewek perokok yang enggak bener, dan melimpahkannya ke semua cewek perokok, terlepas dia cewek baik-baik ato cewek nakal. Mereka tetep dapet titel: cewek enggak bener, Itulah hukum masyarakat.


Masyarakat menilai dari luar, dan itu tidak proporsional. Di sinilah yang tidak adil. Padahal penampilan luar belum tentu mencerminkan hati. Roy Marten yang penampilannya elegan, ternyata pecandu. Penampilan luar tak selamanya mencerminkan dalemnya bukan?


Kembali ke pertanyaan awal, “Emang kenapa cewek merokok?” Nah, saya pernah iseng nanya ke Nana si Bendahara II hima. “Na, apa pendapat kamu tentang cewek merokok?” Dengan simple dia menjawab, “Yah, menurut saya dia adalah cewek yang enggak peduli dengan kesehatannya, Mas. Dan itu enggak cuma berlaku buat cewek, cowok merokok pun gitu. Berarti dia cowok yang enggak peduli dengan kesehatannya. Kalo masalah image, itu mind-set masyarakat aja, padahal belom tentu.” Gokil. Saya setuju banget ama Nana. Nana keren. Aku ngutang yah!


Saya sependapat abis ama Nana. Dan ada satu hal yang yang ingin saya tambahkan, bahwa hampir seluruh sikap dan prilaku manusia adalah hasil meniru. Bagaimana cara kita berpakaian, bagaimana cara kita berbicara, bagaimana cara kita berprilaku, disadari atau tidak merupakan hasil meniru orang lain. Dan sadar atau tidak, kita juga menjadi orang yang ditiru orang lain, ditiru oleh generasi dibawah kita, di tiru oleh adik-adik kita.


Merokok, sadar atau tidak adalah hasil meniru dari orang lain juga. Hidup itu ibarat ikatan rantai yang panjang dan kita sebagai manusia memegang mata rantai itu, kebiasaan jelek bakal turun temurun, bagitu juga kebiasaan baik. Nah, bisa dibilang merokok adalah kebiasaan jelek yang turun temurun. Cara mencegahnya adalah dengan memutus mata rantai ‘merokok’ itu. Karena kita ditiru, tentu kita harus manjadi contoh yang baik. 1000 langkah pasti dimulai dari 1 langkah. Dimulai dari diri kita sendiri, kita putus mata rantai yang jelek. Sehingga adek-adek kita, generasi dibawah kita, bakal nerima yang positif-positif aja.


Disini bukan berarti saya benci ama orang yang merokok. Bukan, bukan gitu. Kalo saya benci ama orang yang merokok, berarti saya benci ama bapak saya dong? Berarti saya benci ama temen-temen saya dong? Yah, bukan begitu. Saya tidak pernah membenci siapapun apalagi orang yang merokok. Saya hanya menyayangkan. Menyayangkan.


Busyet, tumben-tumbennya saya ngomong bener.


Yang benar datangnya dari Allah, dan yang salah datangnya dari saya pribadi sebagai makhluk lemah.


Ganti rokok dengan coki-coki

Abie with Love