Saturday, 15 November 2008

Gorilove; Cinta lebih besar dari Monyet

Hmmm…sekarang saya lagi gencar-gencarnya ngerevisi novel. Setiap dateng revisi dari editor saya, tata (yang enggak mau dipanggil embak), saya langsung hajar habis tu naskah, secepat kilat, namun dengan cinta kasih dan air mata…halah. Saya menantikan datangnya revisi, sebab itu artinya buku perdana saya bakal semakin cepat tebar pesona di Gramedia, dan itu artinya pula bakal banyak cewek-cewek kece ber-hotpants ngejar-ngejar saya dengan niatan yang sama sejak dulu: nagih utang.




Oke, kita tinggalkan cewek-cewek kece itu.




GoRilove. Yah, itu adalah judul baru dari novel saya. Dulunya judul naskah saya adalah Dua KAtak Versus Cinta. Tapi karena menurut Tata judul itu kurang nendang (yang mana saya bingung nih, apa hubungannya judul novel dengan kaki?) jadi dia ganti menjadi gorilove. Semula saya bingung, apa itu Gorilove. Jenis makanan ternak? Namun tata dengan ’ elu-gue’ nya menjawab, “kisah lo kan bermula dari cinta monyet dan berkembang menjadi besar. Makanya diganti Gorilove. Gorila kan lebih gede dari monyet..” Pemikiran yang bagus Ta, thanks!




Selain itu, Tata juga meminta foto-foto saya ( yang mana saya bingung juga, apa Tata naksir saya? Wajar sih..saya ganteng..). Ternyata foto-foto itu diminta Reza (yang mana lagi-lagi saya bingung, jadi yang naksir saya cowok???). Ehem, Reza perlu foto saya untuk dimasukin ke buku, dia adalah Graphic Designer bukune.




Dalam percakapan saya dengan mas Reza, saya menemukan sedikit kejanggalan. Kira-kira begini percakapannya:


“Ya, Dim…kirimin foto-foto lo, biar bisa cepet gue kerjain.”

“Iya mas..” Jawab saya sopan.

Dan kemudaian dia

“Oke deh, makasih yah,Dim. Dadaaah…”



Saya deg-degan.


Saya berfikir, apakah semua cowok Jakarta, mengucapkan ‘ dadaaaah’ kepada teman cowoknya?



Hmm..menarik….



Yah, intinya adalah nantikan debut saya di: GORILOVE!!


_Tata keren_

Abie with love

efek HenPon


Benar kata nenek, teknologi ibarat ‘berdansa dengan Ishihara Satomi di atas kubangan babi’. Yang artinya membawa efek positif dan negative.


Kali ini saya akan menyorot teknologi telekomunikasi, spesifiknya: Handphone, atau Cak Min –tukang bakso di kantin elektro- menyebutnya Hape, dan saya sering menyebutnya ‘ada pulsa enggak? Pinjem dong..’


Yah, Hape membawa angin segar bagi orang-orang dengan mobilitasnya yang tinggi, namun tetap dapat menjalin komunikasi dengan koleganya, teman-temannya, keluarganya, atau hewan piaraannya. Memakai hape sangatlah praktis, kita dapat menghubungi siapa saja, kapan saja, dimana saja, tentunya harus ada pulsa. Kita bisa menelepon pacar kapanpun kita mau: ketika di wc, di kampus, di hutan, atau dirumah selingkuhan. Semua bisa dan mudah, paraktis! Anda cuma butuh jempol untuk menekan tombol dan cling…langsung nyambung!


Tapi sekali lagi, teknologi membawa efek negative dan positif.



Dan efek negaifnya adalah : Manusia jadi malas. Yah, malas berbicara. Buktinya adalah percakapan saya dengan dua teman saya ini.


  1. Dengan Igen

Saya: Assalamualaikun

Igen: Apa?

Saya: Igen?

Igen: Apa?

Saya: Ini Igen?

Igen: Iya ini Igen, apa?

Saya: Oh..

(Pembicaraan macam apa ini? Siapa yang enggak bingung coba?)




Saya baru menemukan pembicaraan seperti ini. Sangatlah tidak standar untuk sebuah percakapan by phone. Di sini terlihat jelas, bahwa Igen telah terkena efek negative dari HenPon, dia jadi malas berbicara. Percakapan yang baik harusnya seperti ini:




Saya: Assalamualaikum

Igen: Waalaikumsalam. Wow..Dimas yang ganteng banget, ada yang igen bisa bantu?

Saya: Ah, kamu adalah wanita ke dua juta tigaratus lima puluh lima ribu yang bilang aku ganteng…ehm, jadi gini gen, tadi aku udah bilang ke temenku..bla..bla..bla..

Igen: Ohw, gitu. makasih ya Dimas yang ganteng banget…kapan-kapan bole minta tanda tangan?

Saya: Boleh aja..berapapun…


Ehem, temen saya yang kedua adalah Satria


  1. Dengan Satria

Saya: assalamualaikum.

Satria: Helm..

Saya: Hah?

Satria: Helm..

Saya: Apa?

Satria: Helm..

Saya: tersadar dan, ‘oh..mau pinjem helm?’

Satria: Iyoh..

(percakapan macam apa ini?Helm..helmm…)




Ini juga termasuk percakapan yang tidak jelas. Satria telah terkena imbas dari teknologi, dia malas berbicara. Harusnya, percakapan yang baik dan benar itu adalah seperti ini:




Saya: Assalamualaikum.

Satria: Waalaikumsalam. Wahai temanku yang budiman, diriku sedang kesusahan..

Saya: Ono opo sat?

Satria: Sulit, pelik, masalah ini begitu pelik kawanku…

Saya; Opo seh sat?

Satria: Helmku ilang…




Yah, ini hanya secuil dari efek teknologi. Masih banyak janda-janda..ehm, maksudnya masih banyak efek negative dari teknologi. Dan kita sebagai manusia harus dapat memilah milah, mana yang positif, mana yang negative, mana yang cantik, dan mana yang bisa dianiaya mukanya…


_Sony Ericsson is the best_

Abie with love