Wednesday, 31 December 2008

Tips dan Trik ke pasar

Pergi ke pasar tradisional harus memiliki seni tingkat tinggi. Sebab pasar tradisional bukanlah Hypermart. Di Hypermart ada sisi sosialisasi yang dihilangkan, yakni antara penjual dan pembeli. Enggak lucu aja kalo misalnya belanja di Hypermart, harus nanya dulu ke sang manager Swalayan: ‘Ni daging sekilo berapa cong?’


Di pasar tradisional tentu jauh lebih kompleks, interaksinya mengena baik di sisi sosial dan psikologi.


Ini dia tips dan trik ke Pasar Tradisional. Hueheuehe…


  1. Masuklah seolah-olah anda mengenal pasar itu. Berjalanlah seolah-olah anda sering ke pasar itu. Jangan menunjukkan ekspresi blo’on anda seperti tolah-toleh enggak jelas, garuk-garuk kepala, atau main futsal di pasar. Tidak boleh. Anda harus pede, berjalan dengan pede. Mungkin bisa ditambah dengan bersiul-siul, atau bernyanyi kecil mendendangkan lagunya Kangen Ben. Tapi jangan coba-coba menyiuli (saya belum menemukan kata yang tepat selain menyiuli) cewek seksi yang mangkal di sana, sebab dapat dipastikan itu adalah pacarnya bos preman. Bisa-bisa anda pulang tinggal celana.

  2. Kenali karakteristik penjual. Jika penjual berasal dari daerah Jawa, gunakan bahasa Jawa. Jika penjual berasal dari daerah minang, gunakan bahasa minang. Logis ya, kalau penjualnya orang lubuk linggau dan kita ngomong pake bahwa Jawa, apa jadinya? Dengan mengenal karakterisktik penjual, secara tidak langsung kita sudah masuk area aman dimana sisi psikologis penjual dan pembeli terjalin. Lebih beruntung lagi jika sang penjual adalah gadis desa yang lugu dan manis, karena setelah acara jual beli selesai, bisa di lanjutkan jalan-jalan ke Mall dan nonton bareng. Setelah itu bisa diteruskan ke hubungan yang lebih serius. Tapi ingat, komunikasi dan saling percaya harus di jaga, agar hubungan anda langgeng…loh?

  3. Tawar setengah harga lebih rendah. Jika sang penjual mematok harga Rp.50.000,00, tawarlah menjadi Rp 25.000. Jika sang penjual memasang harga Rp 20.000,00 tawarlah menjadi Rp10.000. Tapi jangan coba-coba untuk menawarnya menjadi GRATIS. Karena anda akan mendapatkan tamparan, ludah, plus caci maki.

Pembeli: Gurami sekilo berape?

Penjual: lima belas rebu, non!

Pembeli: Gratis boleh ye?

Penjual: “….” (berfikir keras bagian tubuh mana yang kalau dipukul pake ikan Gurame lima kilo, bakal menimbulkan efek yang signifikan)


Catatan: Tips nomor dua tidak bisa diaplikasikan jika anda adalah warga asli pribumi yang berkulit cokelat dan berambut keriting, sedangkan penjualnya adalah warga Indonesia beretnis Tiong Hoa. Contoh kasus, percakapan seperti di bawah ini.



Setting -> di toko hewan piaraan

Tokoh -> Penjual etnis tiong Hoa, pembeli asli pribumi plus kulitnya item.

Penjual: Haiyaa…wo punya balang-balang bagus disini aaa... Lu olang boleh liat-liat dulu aaaa. Masalah halga terljangkau aaaa….


Pembeli: Uhuk-uhuk..(batuk)


Penjual: Lu olang batuk? Minum OBH Combi aaaa…


Pembeli: Haiiyaa..telimakasih aaa… Kalo gitu wo butuh ulal-ulal yang bisa melingkal-lingkal di atas pagal. Wo suka sama ulal kalena dia lucu aaa…


Penjual: LU OLANG NGEJEK GUA YA??? (kemudian Mencari ular yang sangat berbisa untuk mematok mulut si pembeli. Berkali-kali.)


Semoga tips dari saya ini membantu..



_Pasar Is The best_

Abie With Love

Happy New Year

Biasanya, saya melewati tahun baru masehi dengan nongkrong di rumah bersama Ibu sambil nonton Tipi dan ngemil kwaci. Namun di tahun ini terjadi peningkatan. Saya menjadi penanggung jawab acara Mbakariwa’ alias bakar-bakar ikan di LAB Teknik Pengaturan.


Perjuangan untuk mengadakannya sangat berat sodara-sodara. Semula saya pikir, cukup dengan beli ikan dan alat bakar, semua beres. Ternyata pikiran saya itu sesat. Banyak banget yang harus saya siapin!


Dengan estimasi 40-50 orang yang dateng, saya mempersiapkan:

1.Ikan. Ya logis lah ya. Judulnya aja bakar-bakar ikan…ehem, dan saya meminta tolong teman saya asli madura, Bahruddin, untuk membeli lima puluh ikan. Sayang di pasar tak ada ikan Paus. Kan lumayan satu ikan buat rame-rame, dan bisa buat jatah sebulan. Akhirnya Bahruddin memilih Ikan Gurami, plus bonus satu kilo cumi-cumi.

2.Alat bakar. Alat bakar di sini terbagi dua, penjepit ikan dan tempat arang. Tempat arang sudah bisa di tangani oleh teman saya Satria (baca efek HenPon). Kini tinggal penjepit ikan. Saya rela berkelana menyusuri pasar pucang, dengan menahan ketakutan bakal dicolek preman. Dengan bermodalkan wajah ganteng, saya berkeliling ke kios-kios alat masak. Ternyata susah banget cari benda itu. Kaya minyak tanah. Langka! Beruntung di tikungan terakhir saya berhasil mendapatkan dua penjepit ikan, dan memang stoknya tinggal dua. Saya beruntung! Total harganya 19.000. Namun saya berhasil menawarnya, dan harganya menjadi 18.000. Hehehe… kemampan menawar yang payah.
Semula tugas saya telah selesai. Ternyata….

3.Arang. Iya juga ya. Gimana caranya bakar kalo enggak ada arang. Pake korek api rame-rame gitu? Saya membeli arang itu di Toserba Endang di deket kos-kosan. Yah, toserba karena semuannya ada! Dari obat kutil sampe bahan bangunan ada semua ditoko itu. Gilanya, ternyata penjepit ikan juga di jual di sana. Banyak pula! Oh, ralat di point no 2: saya tidak beruntung!.

4.Bumbu Ikan Bakar. Secara kita lontong-lontong semua alias laki-laki. Kita enggak begitu paham tentang perbumbuan. Akhirnya saya dan Agung (baca Kebanggaan terhadap celana training) membeli kecap, mentega dan satu bumbu barbekyu.

5.Sambal. Makan tanpa sambal sama aja dengan sate kambing tanpa kambing. Hambar. Untuk itu saya nekat menerjang hujan untuk mengambil sambal di rumah mbak Ika, di daerah kenjeran. Dalam perjalanan saya sempat mengeluh karena hujan. “I HATE THIS!!” dengan berbekal TOEFL 430 saya berteriak. Allah seperti menjawab keluhan saya. Mendadak hujan jadi super deras, dan tetesannya nyolok-nolok mata saya. Aaaaghh..saya enggak bisa liat jalan! Karenanya saya langsung beristighfar, “Astaghfirulahalaziem. Tadi, saya becanda ya Allah..” Dan hujan mendadak reda.

6.Es campur. Ini sih menu tambahan aja. Soalnya dana juga melimpah. Saya mendelegasikan teman saya, Dimas Syarif, untuk memesan es campur dengan kuota untuk 40 orang. Dan betapa kaget bin terkejut bin mangap, ketika saya melihat kenyataan bahwa Dimas membawa dua tremos super gede berisi es campur. Ini sih bukan untuk 40 orang, tapi 40 kuli panggul di pasar yang hari-harinya ngangkat beras 5 kuintal dengan bersiul! Saya bingung, siapa yang bakal ngabisin?

7.Jeruk nipis. Jeruk nipis selain berfungsi untuk ngelempar maling, juga berfungsi untuk menghilangkan bau amis pada ikan. Hmm..mungkin bisa juga dicoba untuk manusia dan kambing.

Kurang lebih itu persiapannya. Dan inilah error+kenyataan dilapangan:

1.Ikan belum di bersihin. Oke, akhirnya Bahruddin dan Arif SKK dengan semangat juang yang tinggi membedah ikan-ikan itu.. Arif SKK terlihat sangat gemulai. Tampak bahwa ia cukup lama bergaul dengan ikan. Untuk cumi-cuminya, di handle oleh Dimas Syarif dan Andhika. Mereka berdua mencuci dengan riang gembira, seolah-olah mereka menemukan jati dirinya sebagai pencuci cumi-cumi sejati..

2.Kita melupakan karakteristik penting dari mahasiswa Teknik Elektro ITS bidang Studi Teknik Sistem Pengaturan. Bahwa mereka yang sekaligus adalah teman-teman saya itu adalah Singa. Singa-singa lapar yang tiap hari memiliki nafsu makan yang membabi buta. Sebagiannya lagi adalah spesies omnivora yang memiliki empat lambung. Ini semua terindikasi dari LUDESnya limapuluh ikan Gurami bakar, empat Kilo nasi uduk, dan dua tremos es campur segede gaban.

3. Mabok Ikan

Malam tahun baru begitu berkesan. Semoga resolusi kita semua untuk tahun 2009 tercapai!


_Hepi Nu Year_
Abie With Love

Kebanggaan terhadap Celana Training

Ini bukan kisah tentang legenda ular putih, yang mana Pai Tsu Cen jatuh cinta dengan si-cowok-ganteng-yang-ternyata-adalah-cewek, dan kemudian saling memanggil…suamiku…istrikuuu…


Ini juga bukan legenda Tangkuban Perahu, yang mana si cowok hebat banget. Nendang perahu bisa jadi gunung. Mungkin monas juga hasil ‘tendangan’ sensasionalnya.


Ini adalah Legenda Kebanggaan terhadap Celana Training. Sebuah legenda yang terlupakan, tentang khasiat celana training yang maha dahsyat.


Jadi begini ceritanya…


Pada hari sabtu… kuturut ayah ke kota, ehem. Pada hari sabtu malam, saya dan teman-teman berencana pergi ke Bromo, untuk melihat matahari terbit. Sebetulnya dari kos-kosan juga bisa untuk melihat matahari terbit, namun saya lebih tergoda untuk bermimpi indah bersama bantal kesayangan…


Ada delapan anak terpilih dengan digimonnya masing-masing yang berangkat. Saya, Bijak, Agung, Alfiyan, Awi, Gigih, Lukman, dan satu lagi, seseorang yang kita nanti-nantikan…inilah dia..AMMA!


Malam itu hujan tak terlalu deras namun cukup konsisten. Dengan bermodalkan nekat dan wajah ganteng, kita terjang itu yang namanya hujan. Hujan bukan masalah bagi kami, dan masalah bukan hujan bagi kami. Ehehe…


Dengan empat belalang tempur kita meluncur menerjang badai. Tentunya satu motor diisi oleh dua orang, dan yang paling keren adalah pasangan Lukman dan Agung. Perlu diketahui bahwa Lukman memiliki ukuran badan sebesar beruang kutub. Dan Agung memiliki berat badan serupa dengan Panda Cina. Dan apakah yang terjadi ketika satu buah motor Honda Karisma dianiaya secara tak berprikemanusiaan oleh bokong lukman dan Agung? Hasilnya adalah….kehangatan. Hahaha…


Kita berangkat pukul setengah sepuluh malam. Hujan baru usai setelah kita sampai di daerah bangil, pasuruan. Dan jarak Surabaya-Bangil sudah cukup untuk membuat kita basah.


Jalan menuju Bromo sangat berkelak-kelok. Berkelak-kelok hingga sampai puncak. Logis, karena tidaklah mungkin jalan dari dasar gunung sampai puncak hanya berupa jalan lurus dan menanjak. Kalau begitu adanya, kasihan dong si Lukman dan Agung, baru lima meter nanjak, langsung ngglundung ke bawah lagi.


Dan akhirnya kita sampai juga di Bromo pukul tiga dini hari. Dan saya menyesal tak membawa sarung tangan, sebab dinginnya gila mampus. Tangan saya serasa beku. Kalau tangan saya sudah terlanjur beku, sulit untuk memulihkannya karena diperlukan sepuluh perawan yang cantik untuk mencium tangan saya. Mhuhahaha…


Kami berempat nekat membawa motor ke dalam lokasi. Kami melupakan detail penting bahwa dareah sekitar Bromo adalah pasir, dan itu buruk buat motor-motor kami. Bisa slip. Mungkin kita perlu memasang GT-MAN pada ban motor. Sebab GT-MAN kan anti slip…


Beruntung ada tempat untuk memarkir motor di sana. Dalam kedinginan yang menjajah, saya membuka ransel biru saya. Mencari benda untuk menghangatkan badan. Saya berharap ransel saya itu adalah kantong ajaib, yang mana saya bisa mendapatkan alat apapun yang bisa menghangatkan badan. Tapi apa daya, impian tinggal impian. Di dalam tas saya hanya ada satu kaos oblong dan satu CELANA TRAINING. Saya berfikir dengan teramat keras, “Kalo dipikir-pikir, ngapain saya bawa celana training? Mau senam SKJ?”


Namun di bawah langit yang menghampar luas, di tengah-tengah suhu bromo yang rendah, dalam masa dimana Sandra Dewi sedang main congklak, dan di dalam rasa dingin yang menjadi-jadi, satu ide brilian terlecut di otak saya:


CELANA TRAINING = SYAL=ANGET.


Yah, saya telah menemukan satu penemuan tingkat dunia, dan saya layak mendapat nobel. Sebuah penemuan super canggih tentang ‘KHASIAT CELANA TRAINING’


Dengan bangga saya mengikatkan celana itu ke leher saya dan AJAIB, tubuh langsung hangat!! Mungkin jika celana itu tidak dicuci selama tiga bulan, bakal menimbulkan sensasi kehangatan yang berbeda…


Dengan semangat 45 saya dan teman-teman menanjaki Bromo hingga ke puncak. Dan itu kita lalui dalam kegelapan. Hanya ada satu sumber cahaya, yakni senter HP-nya Gigih.
Dalam perjalanan Gigih dengan Pedenya berujar,
“Ah, aku cekeran wae, luwih penak!” -> (“ah, Aku enggak pake sandal aja, lebih enak!”)


Yang Gigih tidak tahu adalah: Tidak memakai sandal dalam menanjaki Bromo merupakan kesalahan. Kesalahan!


Namun Mas Gigih dengan santainya dan tetep dengan wajah (sok) gantengnya melangkahkan kaki mengarungi medan pasir yang belum ia kenali…hihihihi.


Sayang mendung membuat Sunrise tak kelihatan. Tap tak apalah, masih ada kamera. Lhoh? Yah, dengan kamera kita bisa poto-poto. Narsis mungkin udah mendarah daging dalam jiwa kita berdelapan. Di puncak bromo, cukup membuktikan bahwa kita berdelapan adalah mahasiswa teknik elektro ITS semester tujuh yang berjiwa model. Parameternya jelas, kita berfoto ria dengan berbagai pose.


Dan saya tetap dengan bangganya membiarkan+memamerkan ‘syal celana training’ yang mengikat leher saya. Saya bangga dengan celana training saya. Saya BANGGA!


Hari semakin terang, dan kini kita dapat melihat dengan jelas medan yang telah kita lalui. Saya tidak tahu apa yang Gigih rasakan ketika melihat medan itu. Tapi yang jelas, sepanjang jalan berpasir dari bawah sampai puncank bromo, dipenuhi oleh kotoran kuda.


Iya, tokai kuda.


Ho-oh, The shit of jaran.


Itu tuh, benda yang biasanya keluar dari bokongnya kuda…


Beneran deh, masih basah dan terlihat hangat pula.


dan Gigih sukses menginjaknya. Berkali-kali.




(Bangga dengan celana training)


(Masih bangga dengan 'syal')


(tak henti-hentinya bangga)


_Celana Training yang melegenda_
Abie With Love

Wednesday, 24 December 2008

Back Cover Gorilove

Hari ini saya cukup senang, sebab Tata ngirimin Back Cover gorilove. Yang mana setelah saya buka dan baca...wowowowow...

Keren... tapi sumpah saya malu bacanya, pipi saya memerah...
dalam hati saya berkata ,"kok bagian itu yang dicuplik? Kenapa enggak bagian saya yang lagi berpelukan dengan si dia? Hueueueue..."

Eniwei saya suka dengan covernya. Lucu. Semoga isinnya juga bakal menghibur.
dan semoga saya siap menerima kenyataan bahwa kisah cinta pribadi saya tersebar di kalangan manusia di Bumi Indonesia..hahaha

Duuuh enggak sabar pingin liat hasilnyaaaa...

Ini dia backcovernya!


(hehehe..jadi malu..)


_Cie cieee..._
Abie With Love

Tuesday, 23 December 2008

The mBadogger

Hari minggu kemaren adalah penutupan Pelatihan PLC klasikal, dimana saya dan beberapa teman menjadi panitia. Alhamdulillah acara berjalan dengan sukses dan ini yang paling penting: UNTUNG! ada ritual yang biasa dilakukan setelah kegiatan berakhir, yaitu MAKAN-MAKAN. Melihat keuntungan yang kami dapet, sudah hampir dipastikan kami bakal makan ditempat yang oke punya ciamik maknyus. Dan kami sepakat untuk melakukannya di hari senin… Senin ceriaa....senin ceriaaaaa…


Ternyata senin tak begitu ceria di siang hari, sebab saya dan Agung (temen saya yang perutnya segede gaban) seharian menjalani profesi ganda sebagai tukang. Yah, akulah tukang yang ganteng. Seharian kami berdua motong kayu peke gergaji dengan peluh yang menetes tiada henti, dan sesekali bersin akibat serbuk kayu yang nyolok mata. (nyolok mata kok bersin?). Tapi kami adalah lelaki, dan yang namanya lelaki haruslah pantang menyerah dan optimis, bantuan pasti kan datang. Dan benar saja, beberapa bala bantuan segera datang dan pekerjaanpun selesai.


Siang itu bener-bener capek. Karena itulah saat itu saya bertekad: Saya harus makan banyak malam ini!!!! Habisin semua makanan!!! Gebet Horikita Maki!


Malamnya tepat pukul tujuh, panitia berkumpul. Sekadar ngabsen, malam itu panitia yang ngumpul adalah Saya, Agung, Indra, Andhika, Nyoman, dan Tito. Dan panitia yang berhalangan (berhalangan beneran, bukan gara-gara lagi dapet!) adalah Mas Kul-kul, Mas Semi, dan Jimbot. (panitia sangat amat bersyukur dan nyaris bikin acara syukuran besar-besaran satu kampung gara-gara Jimbot berhalangan hadir..hehehe..)


Tujuh lebih lima menit, kita tetapkan tujuan yaitu **#*(@(# (sengaja disensor karena enggak boleh nyebut merk) sebuah restoran masakan Italia yang all you can eat. Otak mahasiswa seperti saya tentunya menangkap kalimat “All you can eat” sebagai “Jatah makan seminggu yang dihabiskan selama satu malam.”


Tak lama waktu yang kami butuhkan untuk sampai ke TKP, dan kami langsung di sambut oleh mbak pelayan yang maaf-maaf bedaknya lebih tebel daripada kulit biawak. Ingin rasanya berkomentar, “Ya ampuuun, pake bedak berapa kilo mbaaak???” Tapi saya sadar, komentar itu hanya akan membawa muka saya ke penggorengan.


Dengan seyumnya yang ramah, si mbak menyambut kami dengan natural.
“Silakan, mau ambil makanannya langsung atau mau pesen minum dulu? Kita sedia jus. Ada jus mangga, melon, jambu, durian, alpukat, dan lain-lain?”


Si mbak terlihat sangat natural, namun menyimpan misi khusus. Hmmm…si mbak melupakan detail yang harusnya ia tangkap, yaitu bahwa kami berenam adalah mahasiswa Teknik Elektro ITS bidang studi Teknik Sistem pengaturan yang ganteng dan sudah lulus mata kuliah teknik variable state. Kami tentunya tahu bahwa minum jus di awal kedatangan merupakan ‘kesalahan terbesar’ yang dilakukan di dalam restoran “all You can eat”. Sebab dengan meminum jus kita akan Kenyang. Minum Jus = Kenyang diawal =Rugi! Jika mbak pelayan adalah kadal, maka kami adalah komodo. Masa komodo dikadalin? Akhirnya kami sepakat untuk berkata “TIDAK”.


Kami beranjak untuk mengambil makanan. Sekilas mirip warung deket kos-kosan yang makanannya disajikan secara prasmanan dan kita bebas untuk mengambil semaunya sampe perut brojol. Cuma bedanya disini enggak ada pindang, tahu, tempe, atau sambel teri. Yang ada ya masakan Italia.


Kami disambut lagi oleh mbak pelayan yang lain. Dia tersenyum senatural mungkin, namun masih menyimpan misi khusus. “silakan mas, mau coba lassagne?” Sangat-sangat natural. Tapi ingat, kami berenam adalah mahasiswa Teknik Elektro ITS bidang studi Teknik Sistem pengaturan yang ganteng dan sudah lulus mata kuliah teknik variable state. Kami tak bakal tertipu. Dilihat dari tampilannya aja, Lassagne udah bikin kenyang. Apaligi dimakan? Bisa-bisa uda KO sebelum nyoba semua makanan yang ada! Akhirnya dengan tersenyum kita sepakat untuk melupakan Lassagne.


Disinilah yang membedakan kami berenam dengan pengunjung lainnya. Jika pengunjung lainnya adalah bayi yang imut, sedang lucu-lucunya, yang mana mengkonsumsi makanan secara tertata dengan kuantitas secukupnya, maka kami bereman adalah: Genderuwo berwujud manusia yang sudah pasang misi untuk menghabiskan gudang makanan beserta cadangannya! Ini terlihat dari prilaku memamah biak kami yang diluar nalar manusia. Inilah rekapitulasi hasil kebiadaban kami:


1.Andhika = empat piring masakan italia, empat hotplate, dua mangkuk sup, dua mangkuk pudding, dan,,,aduh banyak deh…gila Dik, itu perut apa gentong???
2.Saya = Tiga piring masakan Italia, dua hotplate, satu mangkuk pudding, tiga gelas minuman….hmmm, standar yah? Saya kan kurus…
3.Nyoman = Tiga piring masakan Italia, satu hotplate, beberapa gelas minuman, dan es buah…lumayanlah..
4.Agung = Dua piring masakan Italia, dua hotplate, beberapa gelas minuman…perut bole segede gaban, tapi masih kalam ama saya..hihi
5.Tito = Dua pring masakan italia, dan dua hot plate (dan dua-duanya salah pesen..hehe), dan minuman
6.Indra = Ah gak usah disebut, ini mah paling cupu…masa makan dikit udah kenyang? Malu-maluin negara, Ndra!


Semoga kita bisa kembali lagi ke restoran itu…heheheh


Mbadog is amazing
-Abie With Love-

Saturday, 13 December 2008

Coming soon: Gorilove

Fyuh…tak terasa Revisi novel kelar juga. Dengan perjuangan ditengah-tengah gejala tipes kemaren, naskah komplit Gorilove; cinta lebih besar daripada monyet udah selesai saya garap. Yah, Walo berat saya turun empet kilo, tapi Amrozi Cs tetap dieksekusi. Oke memang enggak ada hubungannya. Itu artinya saya tinggal menunggu editor saya, Tata, ngomong: “Dim, besok Gorilove terbit. Segera bakar semua toko buku…ehm, maksudnya cek di semua toko buku!” Dan akhirnya cover final dikirim oleh Tata. Cover yang bagus, penerbit Bukune pasti sudah membayar mahal Tom Krus dan Keti Holmes untuk menjadi model cover saya. Ini nih, covernya..



(Model: Tom Krus dan Keti Holmes..)

Oh no, saya enggak sabar untuk ngelihat cover itu nampang di toko besi..ehem, gramedia dan toko-toko buku lainnya!! Insyaallah benda aneh berbentuk buku itu nyebar di seluruh toko buku sekitar pertengahan Januari.



Untuk itu, nantikanlah:
Gorilove; Cinta Lebih besar daripada Monyet.
Pengarang : Dimas Abi Aufan


Hahahah…


_tak tahan lagi_
Abie with Love

Ketemu Bu Helvy Tiana Rosa

“Hoi, aku baru aja bertemu orang terkenal…!!” Bona datang menghampiri Ronal dengan muka berseri-seri, membawa berita kalu dia baru saja bertemu seseorang yang terkenal.
“Sapa-sapa? Sapa-sapa?” Ronal antusias.
“Bu Helvy Tiana Rosa”
“Wow?? Yang maen di Dance Drill itu?” Ronal ngaco.
“Bukan dudul. Itu sih Katou Rosa! Ini bu Helvy Tiana Rosa, penulis senior yang terkenal itu..!!
“Ah, kamu boong. Pasti yang maen di dance drill itu kan?”
dan Bona segera memasukkan Ronal ke kandang bebek.


Inti cerita diatas adalah, buat kamu yang enggak kenal sapa itu bu Helvy Tiana Rosa, bakal saya masukin ke kandang bebek. Hahaha…


Oke, hari rabu kemaren saya di Sms Mbak Sinta Yudisia untuk datang ke rumahnya habis magrib. Sebab, malam itu mau diadain diskusi kecil-kecilan dengan Bu Helvy Tiana Rosa. Mendengar nama yang tak asing itu, tubuh saya gemetar. Bukan karena heboh, tapi memang pada saat itu saya belum makan siang. Mbak Sinta kemudian memberikan alamat rumahnya, yaitu di daerah Rungkut. Oke, Rungkut. Saya yang buta jalan dan arah yakin bahwa saya pasti bakal kesasar.


Walau hujan menetes. Saya tetap bela-belain untuk datang ke Rumahnya mbak Sinta. Sebenarnya saya ingin mengajak Faishal, teman FLP (Forum Lingkar Pena) saya. Namun sayang, mungkin karena hujan dan tugas kuliah dia tak bisa ikut. Saya juga ingin mengajak Asmirandah, tapi saya enggak tau no HPnya. Walhasil saya bakal berangkat sendirian. Dan benar saja, saya kesasar beberapa kali, dan setelah tanya-tanya ke penduduk sekitar, akhirnya sampai juga di rumahnya Mbak Sinta dengan penuh perjuangan dan air mata...


Satu kenyataan pasti, bahwa semua peserta diskusi adalah wanita. Hanya saya satu-satunya makhluk maha ganteng dengan sejuta pesona. Tapi tak apalah…serasa James Bond. Peserta diskusi hanya ada tujuh orang. Dan hanya saya yang berjakun. Karena pesertanya sedikit, jadi berasa eksklusif.


Saya tak menyesal datang bersama hujan ke rumah Mbak Sinta. Banyak hal dan ilmu yang saya dapatkan dari Bu Helvy. Bu Helvy benar-benar otrang yang asyik. Beliau membagikan pengalamannya ketika menjabat sebagai ketua FLP pusat, dimana beliau mencoba untuk merangkul panulis dari tiap kalangan. Beliau menjelasakan betapa pentingnya pendataan yang valid, sehingga kita tahu berapa banyak karya-karya anak FLP yang telah berhasil dipublikasikan. Beliau juga menerangkan betapa pentingnya sounding FLP, agar FLP terdengar gaungnya di Masyarakat dan disinilah pentingnys publikasi. Wow banget deh pokoknya…


Bu Helvy benar-benar menjunjung tinggi karya-karya yang mencerahakan masyarakat, bukan justru membawa masyarakat menjadi buruk. Hal ini sempat membuat saya ragu dengan Gorilove. Gimana dengan buku perdana saya itu? Sebab isinya menurut saya minim kandungan dakwah alias enggak islami. Bahasa yang saya gunakan juga banyak yang tidak baku, dan saya baru tahu kalau ternyata hal itu menjadi sorotan para tokoh sastra. Buku-buku yang beredar sekarang dinilai banyak menggunakan bahasa yang enggak baku dan dianggap hal tersebut merusak bahasa. Mereka memeberi contoh bukunya Raditya Dika. (hehe..padahal saya suka buku-bukunya mas Radith).


Dalam keadaan saya yang masih ragu, bu Helvy memberikan support pada saya. Kira-kira seperti ini. “Enggak apa-apa kok kamu menulis Gorilove. Saya yakin dalam proses ke depan, kamu akan mencapai tahap dimana kamu hanya akan menerbitkan karya yang benar-benar berkualitas.” Bu Helvy pribadi juga tak terlalu mempermasalahkan gaya bahasa, sebab pengguanaan gaya bahasa tergantung sasaran pembaca kita. Enggak mungkin kita buat buku untuk anak SD, namun dengan gaya bahasa aktifis BEM: ‘Dalam membentuk suatu kelompok yang terintegrasi dalam populasi..bla..bla..bla..’ bisa-bisa anak-anak langsung mabok.

Yah, Bu Helvy cukup men-support saya. Terlebih mbak Sinta juga selalu mendukung saya dan Gorilove. saya jadi mantap untuk melangkah kedepan…


(serasa James Bond....)

_Bu Helvy keren_
Abie With Love

Fabya Dan cowok putih

Baru-baru ini saya berhasil berkomunikasi lagi dengan satu temen SMP saya di Aceh (thanks to YM). Seorang wanita periang dengan berat badan yang khas. Khas banget. Gadis itu bernama Joko..ehem, maaf itu nama dosen saya. Gadis itu bernama Fabya.


Saya inget banget, dulu dia sering sekali digoda, diejek, diganggu sama sohib kental saya, Sandi. Dan Fabya sebelnya bukan main ama yang namanya Sandi. Saya pernah mendapati mata Fabya melirik tajam ketika Sandi lewat…hmm, nafsu membunuh yang fantastis. Lirikan matanya cukup untuk mempercepat prosesi kelahiran sepuluh anak sapi sekaligus.


Sepuluh tahun berlalu.


Di masa dewasa, Fabya tampaknya tidak berubah. Dia tetap gadis yang periang, dengan ukuran tubuh yang khas. Yang berbeda hanya usianya dan diameter pipinya yang semakin menggila. Terakhir ditemukan kenyataan bahwa ternyata mukanya Fabya pipi semua…


Ada satu percakapan saya dengan Fabya yang cukup menarik hati saya. Ini dia:


1. Saya: Dhita dulu suka ama rambutku fab..

Fabya: Rambut kau yang banyak itu???


Oke, sebuah kalimat cerdas terlontar. Perasaan rambut manusia itu memang banyak deh, Fab? Coba saja kamu bayangkan jika manusia cuma berambut lima biji..ehem, lima helai. Gondrong pula. Betapa jeleknya bukan? Apalagi kalo lima helai rambut itu bentuknya kriting…bisa-bisa orang bingung itu rambut apa bulu ketek yang tumbuh di kepala.


2. Fabya: Dim, cariin aku cowok cakep, yang putih…

Saya: yang punya buntut mau?


Oke, cowok putih. Tolong digaris bawahi, COWOK PUTIH. Saya (sebagai manusia berkulit hitam pribumi dengan wajah maha ganteng) berontak. Ada apa dengan cowok putih? Kenapa juga harus putih, Fab? Bukankah cowok hitam lebih macho? Lebih ganteng? Dan misterius seperti BATMAN? Dan…bukankah cowok hitam lebih hitam daripada cowok putih? Andaikan cowok itu adalah sebuah baju. Cowok putih ibaratnya baju berwarna putih, kena debu dikit nampak banget leceknya, kena asap knalpot dikit langsung kelihatan kotornya, kena kuah soto langsung bau soto (ya iyalah). Cowok hitam ibaratnya baju hitam, kena debu enggak keliatan kotor, kena asap knalpot enggak kelihatan leceknya, keren bukan? Kesimpulannya cowok hitam memang lebih oke daripada cowok putih. Jadi..pilihlah cowok hitam Fab. Survey membuktikan bahwa yang item-item lebih maknyus..

Hehe…enggak kok. Saya enggak Rasis. Putih hitam dua-duanya oke. Tapi kayanya lebih asyik kalo warna lain. Ijo mingkin. Kaya Hulk.



NB: Fab, kalo pengin kurus caranya gampang: setiap pulang pergi kantor jangan pake kendaraan…tapi guling-guling. Yah, kamu guling-guling dari rumah menuju kantor, dan dari kantor ke rumah. Dijamin kurus. Guling-guling=kurus.


Gimana caranya gemuk, Fab?

-Abie With Love-