Sunday, 30 May 2010

Balada MacGyver kecil

Masih ingat serial Macgyver?Serial legendaris tentang Si cerdas yang mampu mengatasi tekanan teknis apapun dengan pisau lipat merahnya. Nah, saya punya sedikit rahasia tentang masa kecilnya, mau tau?? Bayar dulu..


Dikisahkan Maggie (panggilan sayang macgyver), yang kala itu berusia kira-kira 10 tahun, sedang asyik-asyiknya main engklek sama sohib dekatnya, Cinta Lauren: gadis bule berambut pirang yang diprediksi bakal menjadi artis tenar di masa yang akan datang..


“Maggie, sekarang choba khamu lemparr itcu batchu..” ujar cinta genit dengan mata dikedip-kedipkan 10 kali.


Sebelum melempar batu, Maggie melakukan perhitungan kecil-kecilan terkait sudut elevasi optimum yg bakal menghasilkan lemparan yang tepat sasaran, jiwa kritis analitis solutif memang telah mendarah daging dari kecil.


“Maggie, what are you doing? Eta batuna dilempar geura…”


Maggie melongo.


“Sebentar Cin, saya masih menghitung sudut elevasi optimumnya.” Dan batupun dilempar, Maggie hanya menghitung sudut elevasi optimum, namun ia lupa menghitung gaya yang harus ia keluarkan untuk lemparan itu, akibatnya batu melayang ke semak-semak. Maggie mendapat pelajaran berharga.


“Nah eta, makan tuh elevasi optimum!”


Maggie berlari menuju semak-semak, untuk mencari batu itu tentunya, bukan bikin kue. (ngapain bikin kue di semak2?). Tapi bukan batu yang ia temukan, melainkan kantong plastik hitam yang berisi suatu benda. Jiwa ingin tahu Maggie bergejolak, Maggie mengambil plastik itu dan menunjukkan pada Cinta.


“What is that, Maggie?? Covered rice??”

“Hah?”

“NASI BUNGKUS!”

“oh, bukan cin. Keras-keras gitu isinya. Coba kita buka yah..”


Maggie membuka plastik itu dan terhenyak luar biasa. Di dalamnya terdapat kotak elektronik, dengan jam digital tertempel di sisi depan. Cinta dan Maggie mengambil kesimpulan yang sama: IT’S A BOM!!!


Cinta panik luar dalam, garuk-garuk kepala dengan arah yang tidak simetris, sesekali salto dan berjalan mengangkang. PANIK! Bagaimana dengan Maggie? Dia hanya menarik napas dalam-dalam dan mencari solusi dengan tenang. Dikeluarkanlah pisau lipat warna merah yang ia beli dari abang-abang di pinggir jalan. Maggie bongkar kotak itu untuk melihat isinya. Dirinya dihadapkan pada dua kabel, kabel merah dan kabel biru. Dia harus memilih, taruhanya cuma satu…nyawa.


“Cin, berhenti dulu coba saltonya, coba ke sini bantuin saya..”

“Hosh..hosh..Oke, what can I do for you..” Cinta mendekat perlahan, masih takut, menahan ompol.

“Kira-kira kabel merah apa biru ya?”

“Ah…teu ngarti! Sok atuh dipikir sendiri!”


Maggie bengong sejenak, kemudian berpikir lagi. Sedangkan cinta salto lagi ke belakang.


Gila, saya harus ambil keputusan! Do or die! Coba saya bongkar lebih dalam untuk memeriksa koneksinya.


Maggie membongkar kotak itu lebih dalam, kini kotak itu terlihat seperti emping terlindas bus trans jakarta. Maggie terus menganalisa, dia mengemban beban yang sangat berat: kehidupan! Maggie terus berpikir dengan keras, hingga keringatnya menetes. Dia masih ragu untuk memilih, ini adalah pilihan tersulit dalam hidupnya. Dan ini juga merupakan salto terbanyak dalam hidup Cinta.


Maggie memandang pisau lipatnya, warna merah. Maggie mencoba berpikir diluar akal logika tentang mengapa pisau lipatnya berwarna merah. Dia mendapatkan jawaban dari hatinya, bahwa pisau merah miliknya merupakan petunjuk untuk permasalahan ini: KABEL MERAH! Dengan taruhan yang sangat tinggi, Maggie segera memotong kabel merah. YAH! MERAH! Cinta memekik tertahan, bukan karena takut bom meledak, namun karena salah urat gara-gara kebanyakan salto.


Maggie memejamkan matanya, menyiapkan diri kalau BOM meledak seketika. Detik berlalu dan ledakan tidak muncul, dan itu artinya Maggie berhasil! Maggie dan Cinta benar-benar lega, mereka melompat penuh keriangan. Seperti telah mengalahkan 24105130 juta penjajah asing. Ini adalah momen paling bahagia dalam hidupnya, Maggie telah menyelamatkan KOTA!!!


“EH, MAGGIE!!!” kakek Maggie berjalan cepat dengan mata melotot penuh amarah ke arah Maggie. Kakek Maggie memang terkenal paling galak di kota itu, keahliannya adalah memarahi secara sadis orang-orang tanpa memandang usia. Maggie bingung. Tanpa ba-bi-bu si kakek menjewer kuping Maggie dan Cinta. Maggie tidak terima, kakek tidak tahu bahwa dia telah menyelamatkan kota!!


“KAKEK! Kenapa kakek menjewer telinga saya?? Apa kakek tidak tahu kalau saya telah menyelamatkan kota dari ledakan BOM!!”


“BOM pala lu ijo! ITu radio baru gue kenapa jadi daging cincang?! Anak kampret!!”


*****

Apakah ada yang aneh dari cerita ini? Banyaaak!! Salah satunya, kenapa si kakek nyimpen radio baru di semak-semak?? Sakit jiwa…