Monday, 28 November 2011

Oh Lala Ting Ting,

Enggak ada hubungannya dengan Ayu Ting Ting, apalagi perjaka ting-ting, kini buku OHH Lala Ting Ting udah menyebar di gramedia dan Toko Buku seantero negri.


Apa itu Oh Lala Ting Ting?

Mari saya ceritakan sejenak, semua pada duduk manis ya. Ya, kamu yang duduknya ngangkang juga termasuk.

Oh Lala Ting-Ting (mari kita singkat dengan OLTT) merupakan proyek 4 Penulis dengan base yang sama, yakni Komedi. 4 Orang ganteng itu adalah Saya, Roy Saputra, Wandi Popok, dan Aira Nugie.

Konsep buku ini cukup kreatif, kita berempat melakukan 'penulisan bersambung'. Untuk menyelesaikan satu cerita, kita menulis secara bergantian. Semisal Bab 1 ditulis oleh Roy, Bab 2 disambung oleh Nugie, Bab 3 dilanjut oleh saya, kemudian Wandy, begitu seterusnya hingga selesailah satu Novel utuh. Hal menariknya adalah :

1. Kamu akan merasakan sesuatu yang berbeda di tiap BAB nya, karena ditulis oleh penulis yang berbeda yang notabene memiliki gaya kepenulisan yang berbeda pula.

2. Kamu enggak bakal bisa menebak kelanjutan cerita tiap BABnya, karena ketika Roy telah selesai menggarap BAB 1, maka Nugie melanjutkan BAB 2 dengan alur cerita sesuai dengan kehendak Nugie, begitu terus hingga OLTT selesai. Jadi bisa aja kamu nemuin di BAB 1 si tokoh punya pacar banyak, tapi di BAB 2 pacarnya kejang-kejang semua. Itu semua terserah PENULISNYA.

3. Harganya cukup terjangkau dari kantong kamu. Hanya Rp. 25000,- ajah. Kalo kamu nabung sehari Rp. 5000, maka di hari ke 5 kamu udah bisa beli OLTT. Murah kan?

4. Nanti ada kuisnya looooh... jadi kamu punya kesempatan menangin hadiah2 lucu dari kita.

5. Sebagian keuntungan dari OLTT akan disalurkan untuk sosial. So, Happy nya dapet, pahala juga dapet.


So, tunggu apalagi. Segera lari ke Gramedia terdekat, ambil OLTT dan ngacir ke kasir!!

Kemanaa...Kemanaaa...
_Abiejiwa_

Wednesday, 23 November 2011

Sedikit percakapan tentang twailait..... ya, oke twilight.

Salam.

Kemaren sepulang kantor saya menyempatkan diri untuk jalan sejenak ke Plaza Semanggi. Tidak ada tujuan khusus, cuma ingin me-refresh otak yang seharian dipenuhi kerjaan. Dan saat itu saya ditemani oleh seorang teman, Afnini namanya, wanita jenis kelaminnya, dan mungil badannya. Saking mungilnya, bisa kali ya buat ganjel truk....hahaha.

Di tengah perjalanan, Afnini berseru. "Bi, aku tuh pengin nonton Breaking Dawn! Kapan-kapan nonton yuk..."

Breaking Dawn. Kalau dikaji secara harfiah, breaking bisa berarti kerusakan, atau pemecahan. Dawn bisa berarti fajar, subuh, atau dini hari. Kalau digabungkan mungkin artinya Kerusakan Dini Hari, atau Fajar yang pecah. Judul yang cukup anarkis, membuat saya berpikir bahwa ini film pasti film perang, film laga, film action . Pasti bakal banyak ledakan, tembakan, darah dimana-mana, luka dimana-mana, orang ganteng dimana-mana. Aktornya pasti sejenis Jason Statham, Bruce Willis, Steven Seagal, atau Barry Prima. (Barry Prima?).

"Breaking dawn? Film apa tuh?"
"Itu lho, Bi. Sequelnya Twilight..."
"......"
"Yuk, nonton yuk.."
"MENDING GUA NYUCI DI KOSAN!"

Dan Afnini melanjutkan perjalanan dengan galau sambil ngebayangin Robert Pattinson nyuci kaos kaki di kosan.

=================================================================

Magrib hari ini, sepulang kantor saya bertemu dengan Rendra, temen kuliah saya dulu. Sebagai informasi, Rendra adalah mahasiswa paling tampan pada masanya. Kalo dia ganteng nomor 1, nah saya nomor 2. *muntah*.

Kala itu dia terlihat berjalan dengan penuh semangat bagai anggota marching band. Tipe berjalan yang berbeda dengan orang kebelet pipis sambil dikejar anjing. Mendapati saya, Rendra langsung menyapa.

"Wah, baru pulang, Bi?" Sambil menjulurkan tangannya, ngajak salaman.
"Iya, Ndro..." Balas saya. Enggak, enggak pake cipika cipiki apalagi nyium jidat. "Mau kemana, Ndro?"

"Aku mau nonton nih. Nonton Twilight!"

"MASA LAKI-LAKI NONTON TWILIGHT?!"

"Lho, emang twilight itu film cewek, Bi?"

"......." menurut loooo?

Dan Rendra-pun berlalu. Saya sangat yakin kalo dia sedang mengalami pergolakan dan pertentangan batin yang hebat. Sangat hebat.


_Abie with Love_
Twilight itu apa sih?

Friday, 5 August 2011

Hai Ramadhan part 1

Salam Ganteng.

Kalo diinget-inget, tiga tahun terakhir saya mengalami ramadhan di tiga tempat yang berbeda. Pertama, di Surabaya. Saat itu saya masih jadi mahasiswa lecek, kurus, dan ganteng (teteuup). Berikutnya, saya menjalani puasa di Cimahi, saat itu saya masih menjalani On The Job Training dan itu adalah musim puasa saya terhebat. Mengapa? sebab berat badan saya nambah drastis. Dan sekarang, saya menjalaninya di Jakarta.

Kalo puasa-puasa gini, Jam kerja kantor mengalami pemotongan yang cukup signifikan. Biasanya jam kerja hingga 16.30, sekarang jam 15.45 orang-orang udah  pada ngibrit. Untuk hari pertama dan kedua saya menikmatinya, tapi tidak untuk hari selanjutnya. Sebuah event besar bertajuk 'Wawancara calon peserta s-2 Luar Negri biaya dinas' adalah penyebabnya. Tugasnya sih sebenernya simple: memastikan kehadiran peserta dan pewawancara, dan memastikan semua berjalan lancar. Sayangnya, kedatangan pewawancara dengan kombinasi 2 Kepala Divisi (kadiv) dan 2 Direksi adalah hal yang tidak pasti. Pas kadivnya ready stock, Direksinya entah kemana. Pas Direksinya ada, Kadivnya yang invisible. Dan hal itu membuat bos saya compang camping tunggang langgang nyari-nyari pewawancara. (sabar ya pak, saya juga ribet kok...tapi dikit :p).

Event ini juga yang membuat saya tiap harinya pulang jam 9 malam, bahkan beberapa kali jam 10. Sampe kosan langsung kejang-kejang. Tapi hal ini sangat menyenangkan, sebab setiap buka puasa pasti ditanggung Pak Farid (bos saya). Menjelang buka, pasti beliau menawarkan hal yang saya nantikan bertahun-tahun :

"Pak Abi, mau buka apa hari ini?"

"Kepiting Saus Tiram, Pak..." ---> Staff tak tau diri.

Hasilnya, Pak Farid membelikan saya nasi padang.  

Ada kejadian yang cukup menyebalkan pas saya memandu 1 tim seleksi. Jadi tiap hari tu ada 4 tim seleksi, masing-masing tim (seperti yang udah saya bilang tadi) berkomposisi 2 Direksi, 2 Kadiv, dan 1 obat nyamuk. Siang itu, kebetulan saya menjadi fasilitator Tim dimana didalamnya terdapat 1 direksi yang terkenal killer. Dia bisa mematikan peserta wawancara dan juga panitia. Catet ye, panitia. Dan siang itu terjadi percakapan seperti di bawah  ini (untuk menyelamatkan karir saya, mari kita samarkan nama beliau):

Pak xxx:  habis ini tinggal 1 peserta lagi ya?

Saya : Oh, setelah ini masih ada 2 peserta lagi, Pak. *dengan senyum terbaik saya

Pak xxx: Lho? KOK malah kamu yang NGATUR?!"

Saya : ...... *mati gaya.

Wajar dong, saya yang ngatur. Kan saya panitia. 

Keesokan harinya tidak lebih baik. Saya ingin memberitahukan pada beliau bahwa diluar masih ada 2 peserta lagi. Saya udah susun kalimat sesuai EYD dengan senyum dua kali lebih bersinar dari sebelumnya: 'Pak, mohon maaf, di luar masih ada 2 peserta lagi, jika bapak ada waktu dan berkenan, apakah bisa dilanjutkan?' --> Gimana? mantep dan sangat-sangat sopan kan? Pasti bapak itu bakal langsung terpesona sama saya. Mungkin dia bakal berpikir, 'wow, di zaman yang penuh kebobrokan moral seperti ini, masih ada pemuda sopan seperti dia. Boleh lah saya jadiin menantu'.

Sayang, hasilnya tak seindah itu mamen. Begitu saya buka pintu dan menyembulkan kepala saya, si bapak langsung menyambut saya dengan:

"NANTI DULU!!"

"Tapi, Pak. Say..."

"NANTI DULU!! Dari kemaren kamu tuh nyela mulu!"

"......" *Nutup pintu dengan hati menangis.


Doakan saya, semoga kegiatan ini berjalan Lancar. ^_^

Oh ya, Selamat Berpuasa buat semua ^_^


Siap-siap Di semprot

-Abie with love-

Tuesday, 11 January 2011

Semut suka yang manis

Mesin waktu berjalan menuju masa-masa kuliah semester 4. Saat itu Hima akan mengadakan Seminar Go Blog. Memang jika dilafalkan dengan desibel sekelas speaker masjid di depan preman pasar atom, kata 'go blog' dapat menyebabkan luka tusuk. Seminar Go Blog dilatarbelakangi oleh maraknya blog di masa itu, salah satu aktor pentingnya adalah Raditya Dika yang kala itu terkenal dengan Kambing Jantan dan Cinta Brontosaurus-nya. Atas dasar itu pula Hima mengundang dia sebagai Pembicara di seminar Go Blog. 


Seperti biasa, Hima selalu membuka open recruitmen kepanitiaan  untuk  seluruh warga elektro yang ingin berpartisipasi. Saya yang sedang berduka akibat penolakan naskah oleh penerbit, melihat open recruitmen tersebut menjadi peluang. Peluang untuk ikut seminar gratis. Saat itu saya bertanya, “ who is raditya dika?” tentu saja dengan menggunakan bahasa Jawa. (Sengaja saya tulis pake bahasa inggris, supaya keren).  Seminar go blog ini menarik saya karena mengusung tema kepenulisan, bukan karena pembicaranya yang waktu itu tidak saya kenali. Untuk itulah saya segera melakukan analisis singkat dalam menilai pos-pos kepanitiaan yang paling menguntungkan buat saya.


SEKSI ACARA , enggak deh. Seksi acara adalah seksi yang menguras otak alias RIBET.


SEKSI PERLENGKAPAN, Kalo yang ini tidak terlalu menguras otak, tapi tenaga. CAPEK.


SEKSI KEAMANAN, Di pastikan berkahir sebagai penjaga parkir.


SEKSI PERIZINAN, Capek bolak-balik buat mencari tanda tangan orang-orang yang tidak terkenal.


SEKSI SEKALI GADIS ITU..WOW! Ups, maaf saat itu di depan saya lewat senior angkatan 2004 yang sepertinya salah memilih jurusan, seharusnya dia masuk sekolah permodelan.


Saat masih menganalisa, tiba-tiba teman saya, Esti, menyapa.


“Hai, Bi..”

“Hai, Ti..”

“Kamu bantuin aku aja di seksi konsumsi, Bi..” Kebetulan Esti ini adalah koordinator seksi konsumsi. Analisa cepat segera saya lakukan. SEKSI KONSUMSI, pekerjaannya bersentuhan dengan makanan, job desc nya cukup simpel, beli makanan dan menghidangkan makanan kepada tamu. Tugasnya mudah sekali mamen. Tanpa banyak basa-basi saya langsung mengangguk. YES saya mendapat durian runtuh!


 H-1 Seminar, Esti memerintahkan saya membeli snack untuk pembicara.


“Bi, tolong beliin bread talk 8 bungkus, ini duitnya..”

“Okay, Ti.”

“Sip, besok sekalian kamu bawa ya pas acara..”

“Beres, Ti.”

“Makasih, Bi.”

“Hmm, Ti..”

“Ya?”

“Bread talk tu apa?”

“….”


Semesta mendadak menghentikan waktu. Esti sepertinya sangat terkejut dan meragukan eksistensi saya sebagai anak muda berusia 20 tahun. Sebab anak muda 20 tahun pasti tahu bread talk. Alhasil saya menghubungi sohib saya yang paling baik, Che, untuk menemani saya membeli apa yang Esti sebut Bread Talk.


“Che, temenin ya ntar malem..” Pinta saya ke che.

“Kemana?”

“Beli..hmm, Bread talk, tau?”

“Ooh, Bread talk, tau…”


Yow anak nongkrong MTV! bahkan cherian yang lebih muda dari saya tahu Bread Talk. Saya mulai meragukan identitas saya sebagai mahasiswa, sebab sepertinya semua mahasiswa tahu Bread talk. Singkat kata, malamnya Che mengantarkan saya ke Galaksi Mall, dan menunjukkan tempat yang disebut Esti Bread Talk.


“Oooh, toko roti…”


Thanks to Cherian yang sudah membimbing saya keluar dari kegelapan, kalau tidak saking frustasinya bisa-bisa saya memborong kue pukis di dekat kos-kosan dan melabelinya dengan merk Bread Talk. 


Dengan riang gembira dan suka cita saya pulang ke kosan membawa bungkusan Roti dengan aroma yang harum itu. Saya membawanya dengan penuh haru, ingin saya berteriak “OOOOI, AKU BAWA BREAD TAAAALLK!!” namun tidak jadi karena menurut Che itu tidak biasa dilakukan oleh mahasiswa dan  hanya akan mengundang hujatan.


Saya meninggalkan bungkusan roti itu di lantai kos-kosan, selanjutnya saya pergi ke kosan Cherian untuk mengedit foto. Saya melupakan sebuah logika sederhana berdasarkan sebuah pepatah.


ADA GULA ADA SEMUT --> SEMUT SUKA YANG MANIS-MANIS --> GULA ADALAH  KOMPOSISI PENTING DALAM ROTI-ROTI BREAD TALK --> ROTI-ROTI BREAD TALK RASANYA MANIS --> SEMUT KENYANG


Hasilnya, ketika sampai kamar, saya menemukan para semut sedang mengadakan seleksi CPNS di setiap kotak roti. Mendapati realita itu, saya segera mencari solusinya. Cara pertama muncul, saya mengganti roti-roti itu dengan roti yang baru menggunakan dana sendiri. Namun cara itu pupus tepat ketika melihat dua ribu lima ratus rupiah membeku di dalam dompet. Cara konvensional saya ambil, yaitu menyingkirkan satu demi satu semut laknat itu dari semua roti. Hal ini cukup efektif, walaupun saya sadar pasti masih ada beberapa semut yang lolos dari tangkapan.


Agar tidak terjatuh di lubang yang sama, bungkusan roti saya tempatkan di kursi yang beralaskan ember berisi air. Logikanya : SEMUT PENGIN ROTI --> SEMUT HARUS BERENANG --> BELUM SAMPE  SEMUT UDAH MATI DULUAN --> ROTI SELAMAT--> KESELAMATAN PEMBICARA SEMINAR URUSAN BELAKANGAN.  


Esoknya, seolah-olah tidak terjadi apapun saya menyerahkan roti-roti itu kepada Esti untuk di tata. Selama jalannya seminar saya melihat para pembicara dengan lahap memakan roti itu. Tepatnya roti isi SEMUT itu. Saya berdoa dengan khusyuk agar Yang Maha Kuasa memberikan keselamantan pada mereka semua, agar semut yang mereka telan mengandung gizi yang sangat luar biasa. Dan semoga saja di akhir acara mereka tidak berkata;


“Dek, rotinya enak banget. Tapi kok ada sensasi pedesnya ya?”

 

NB : Seminar berjalan sangat menarik, dan saat itu saya menyadari bahwa raditya dika adalah penulis yang langka dan berkarakter. Ujungnya, semua itu memotivasi saya untuk terus berkarya.

 

Mesin waktu telah kembali ke masa sekarang

_Abie With Love_