Tuesday, 11 January 2011

Semut suka yang manis

Mesin waktu berjalan menuju masa-masa kuliah semester 4. Saat itu Hima akan mengadakan Seminar Go Blog. Memang jika dilafalkan dengan desibel sekelas speaker masjid di depan preman pasar atom, kata 'go blog' dapat menyebabkan luka tusuk. Seminar Go Blog dilatarbelakangi oleh maraknya blog di masa itu, salah satu aktor pentingnya adalah Raditya Dika yang kala itu terkenal dengan Kambing Jantan dan Cinta Brontosaurus-nya. Atas dasar itu pula Hima mengundang dia sebagai Pembicara di seminar Go Blog. 


Seperti biasa, Hima selalu membuka open recruitmen kepanitiaan  untuk  seluruh warga elektro yang ingin berpartisipasi. Saya yang sedang berduka akibat penolakan naskah oleh penerbit, melihat open recruitmen tersebut menjadi peluang. Peluang untuk ikut seminar gratis. Saat itu saya bertanya, “ who is raditya dika?” tentu saja dengan menggunakan bahasa Jawa. (Sengaja saya tulis pake bahasa inggris, supaya keren).  Seminar go blog ini menarik saya karena mengusung tema kepenulisan, bukan karena pembicaranya yang waktu itu tidak saya kenali. Untuk itulah saya segera melakukan analisis singkat dalam menilai pos-pos kepanitiaan yang paling menguntungkan buat saya.


SEKSI ACARA , enggak deh. Seksi acara adalah seksi yang menguras otak alias RIBET.


SEKSI PERLENGKAPAN, Kalo yang ini tidak terlalu menguras otak, tapi tenaga. CAPEK.


SEKSI KEAMANAN, Di pastikan berkahir sebagai penjaga parkir.


SEKSI PERIZINAN, Capek bolak-balik buat mencari tanda tangan orang-orang yang tidak terkenal.


SEKSI SEKALI GADIS ITU..WOW! Ups, maaf saat itu di depan saya lewat senior angkatan 2004 yang sepertinya salah memilih jurusan, seharusnya dia masuk sekolah permodelan.


Saat masih menganalisa, tiba-tiba teman saya, Esti, menyapa.


“Hai, Bi..”

“Hai, Ti..”

“Kamu bantuin aku aja di seksi konsumsi, Bi..” Kebetulan Esti ini adalah koordinator seksi konsumsi. Analisa cepat segera saya lakukan. SEKSI KONSUMSI, pekerjaannya bersentuhan dengan makanan, job desc nya cukup simpel, beli makanan dan menghidangkan makanan kepada tamu. Tugasnya mudah sekali mamen. Tanpa banyak basa-basi saya langsung mengangguk. YES saya mendapat durian runtuh!


 H-1 Seminar, Esti memerintahkan saya membeli snack untuk pembicara.


“Bi, tolong beliin bread talk 8 bungkus, ini duitnya..”

“Okay, Ti.”

“Sip, besok sekalian kamu bawa ya pas acara..”

“Beres, Ti.”

“Makasih, Bi.”

“Hmm, Ti..”

“Ya?”

“Bread talk tu apa?”

“….”


Semesta mendadak menghentikan waktu. Esti sepertinya sangat terkejut dan meragukan eksistensi saya sebagai anak muda berusia 20 tahun. Sebab anak muda 20 tahun pasti tahu bread talk. Alhasil saya menghubungi sohib saya yang paling baik, Che, untuk menemani saya membeli apa yang Esti sebut Bread Talk.


“Che, temenin ya ntar malem..” Pinta saya ke che.

“Kemana?”

“Beli..hmm, Bread talk, tau?”

“Ooh, Bread talk, tau…”


Yow anak nongkrong MTV! bahkan cherian yang lebih muda dari saya tahu Bread Talk. Saya mulai meragukan identitas saya sebagai mahasiswa, sebab sepertinya semua mahasiswa tahu Bread talk. Singkat kata, malamnya Che mengantarkan saya ke Galaksi Mall, dan menunjukkan tempat yang disebut Esti Bread Talk.


“Oooh, toko roti…”


Thanks to Cherian yang sudah membimbing saya keluar dari kegelapan, kalau tidak saking frustasinya bisa-bisa saya memborong kue pukis di dekat kos-kosan dan melabelinya dengan merk Bread Talk. 


Dengan riang gembira dan suka cita saya pulang ke kosan membawa bungkusan Roti dengan aroma yang harum itu. Saya membawanya dengan penuh haru, ingin saya berteriak “OOOOI, AKU BAWA BREAD TAAAALLK!!” namun tidak jadi karena menurut Che itu tidak biasa dilakukan oleh mahasiswa dan  hanya akan mengundang hujatan.


Saya meninggalkan bungkusan roti itu di lantai kos-kosan, selanjutnya saya pergi ke kosan Cherian untuk mengedit foto. Saya melupakan sebuah logika sederhana berdasarkan sebuah pepatah.


ADA GULA ADA SEMUT --> SEMUT SUKA YANG MANIS-MANIS --> GULA ADALAH  KOMPOSISI PENTING DALAM ROTI-ROTI BREAD TALK --> ROTI-ROTI BREAD TALK RASANYA MANIS --> SEMUT KENYANG


Hasilnya, ketika sampai kamar, saya menemukan para semut sedang mengadakan seleksi CPNS di setiap kotak roti. Mendapati realita itu, saya segera mencari solusinya. Cara pertama muncul, saya mengganti roti-roti itu dengan roti yang baru menggunakan dana sendiri. Namun cara itu pupus tepat ketika melihat dua ribu lima ratus rupiah membeku di dalam dompet. Cara konvensional saya ambil, yaitu menyingkirkan satu demi satu semut laknat itu dari semua roti. Hal ini cukup efektif, walaupun saya sadar pasti masih ada beberapa semut yang lolos dari tangkapan.


Agar tidak terjatuh di lubang yang sama, bungkusan roti saya tempatkan di kursi yang beralaskan ember berisi air. Logikanya : SEMUT PENGIN ROTI --> SEMUT HARUS BERENANG --> BELUM SAMPE  SEMUT UDAH MATI DULUAN --> ROTI SELAMAT--> KESELAMATAN PEMBICARA SEMINAR URUSAN BELAKANGAN.  


Esoknya, seolah-olah tidak terjadi apapun saya menyerahkan roti-roti itu kepada Esti untuk di tata. Selama jalannya seminar saya melihat para pembicara dengan lahap memakan roti itu. Tepatnya roti isi SEMUT itu. Saya berdoa dengan khusyuk agar Yang Maha Kuasa memberikan keselamantan pada mereka semua, agar semut yang mereka telan mengandung gizi yang sangat luar biasa. Dan semoga saja di akhir acara mereka tidak berkata;


“Dek, rotinya enak banget. Tapi kok ada sensasi pedesnya ya?”

 

NB : Seminar berjalan sangat menarik, dan saat itu saya menyadari bahwa raditya dika adalah penulis yang langka dan berkarakter. Ujungnya, semua itu memotivasi saya untuk terus berkarya.

 

Mesin waktu telah kembali ke masa sekarang

_Abie With Love_