Friday, 5 August 2011

Hai Ramadhan part 1

Salam Ganteng.

Kalo diinget-inget, tiga tahun terakhir saya mengalami ramadhan di tiga tempat yang berbeda. Pertama, di Surabaya. Saat itu saya masih jadi mahasiswa lecek, kurus, dan ganteng (teteuup). Berikutnya, saya menjalani puasa di Cimahi, saat itu saya masih menjalani On The Job Training dan itu adalah musim puasa saya terhebat. Mengapa? sebab berat badan saya nambah drastis. Dan sekarang, saya menjalaninya di Jakarta.

Kalo puasa-puasa gini, Jam kerja kantor mengalami pemotongan yang cukup signifikan. Biasanya jam kerja hingga 16.30, sekarang jam 15.45 orang-orang udah  pada ngibrit. Untuk hari pertama dan kedua saya menikmatinya, tapi tidak untuk hari selanjutnya. Sebuah event besar bertajuk 'Wawancara calon peserta s-2 Luar Negri biaya dinas' adalah penyebabnya. Tugasnya sih sebenernya simple: memastikan kehadiran peserta dan pewawancara, dan memastikan semua berjalan lancar. Sayangnya, kedatangan pewawancara dengan kombinasi 2 Kepala Divisi (kadiv) dan 2 Direksi adalah hal yang tidak pasti. Pas kadivnya ready stock, Direksinya entah kemana. Pas Direksinya ada, Kadivnya yang invisible. Dan hal itu membuat bos saya compang camping tunggang langgang nyari-nyari pewawancara. (sabar ya pak, saya juga ribet kok...tapi dikit :p).

Event ini juga yang membuat saya tiap harinya pulang jam 9 malam, bahkan beberapa kali jam 10. Sampe kosan langsung kejang-kejang. Tapi hal ini sangat menyenangkan, sebab setiap buka puasa pasti ditanggung Pak Farid (bos saya). Menjelang buka, pasti beliau menawarkan hal yang saya nantikan bertahun-tahun :

"Pak Abi, mau buka apa hari ini?"

"Kepiting Saus Tiram, Pak..." ---> Staff tak tau diri.

Hasilnya, Pak Farid membelikan saya nasi padang.  

Ada kejadian yang cukup menyebalkan pas saya memandu 1 tim seleksi. Jadi tiap hari tu ada 4 tim seleksi, masing-masing tim (seperti yang udah saya bilang tadi) berkomposisi 2 Direksi, 2 Kadiv, dan 1 obat nyamuk. Siang itu, kebetulan saya menjadi fasilitator Tim dimana didalamnya terdapat 1 direksi yang terkenal killer. Dia bisa mematikan peserta wawancara dan juga panitia. Catet ye, panitia. Dan siang itu terjadi percakapan seperti di bawah  ini (untuk menyelamatkan karir saya, mari kita samarkan nama beliau):

Pak xxx:  habis ini tinggal 1 peserta lagi ya?

Saya : Oh, setelah ini masih ada 2 peserta lagi, Pak. *dengan senyum terbaik saya

Pak xxx: Lho? KOK malah kamu yang NGATUR?!"

Saya : ...... *mati gaya.

Wajar dong, saya yang ngatur. Kan saya panitia. 

Keesokan harinya tidak lebih baik. Saya ingin memberitahukan pada beliau bahwa diluar masih ada 2 peserta lagi. Saya udah susun kalimat sesuai EYD dengan senyum dua kali lebih bersinar dari sebelumnya: 'Pak, mohon maaf, di luar masih ada 2 peserta lagi, jika bapak ada waktu dan berkenan, apakah bisa dilanjutkan?' --> Gimana? mantep dan sangat-sangat sopan kan? Pasti bapak itu bakal langsung terpesona sama saya. Mungkin dia bakal berpikir, 'wow, di zaman yang penuh kebobrokan moral seperti ini, masih ada pemuda sopan seperti dia. Boleh lah saya jadiin menantu'.

Sayang, hasilnya tak seindah itu mamen. Begitu saya buka pintu dan menyembulkan kepala saya, si bapak langsung menyambut saya dengan:

"NANTI DULU!!"

"Tapi, Pak. Say..."

"NANTI DULU!! Dari kemaren kamu tuh nyela mulu!"

"......" *Nutup pintu dengan hati menangis.


Doakan saya, semoga kegiatan ini berjalan Lancar. ^_^

Oh ya, Selamat Berpuasa buat semua ^_^


Siap-siap Di semprot

-Abie with love-