Monday, 18 August 2014

Plot Dalam Novel dengan Metode 8 Sequence

Bagi saya, ada dua hal elemen krusial dalam proses pembuatan sebuah novel fiksi: Plot dan Karakter. Dalam cerita, plot berperan sebagai mangkuk, dan karakter berperan sebagai indomie kari ayam dengan telur dan irisan cabe rawit. Keduanya saling melengkapi, dan emang ditakdirkan berjodoh.

Namun pada posting-an kali ini, saya mau ngebahas masalah plot.

Secara umum ada dua model plot yang dipakai di dunia penceritaan kreatif, baik di media film maupun buku, yaitu plot maskulin dan plot feminim. Plot maskulin memiliki jalan cerita yang lebih dipengaruhi oleh sisi eksternal. Plot ini biasanya dipakai dalam film-film petualangan dan action macam Rambo, The Raid, dan Indiana Jones.

Sebaliknya, plot feminim dipengaruhi oleh sisi internal, tepatnya karakter. Interaksi antar karakter maupun dengan dirinya sendiri menjadi pengendali jalannya cerita. Misalnya, plot pada Jomblo, Juno, Laskar Pelangi, Idolku Cantik dan banyak lagi. Plot inilah yang sering dipakai di dunia fiksi Indonesia, termasuk saya.

Inget enggak guru bahasa Indonesia kita pernah mengajarkan tentang plot? Yap. Secara umum plot dalam cerita ada tiga sequence: Setup - Klimaks - Konklusi. Pada saat proses penerbitan buku pertama saya, Gorilove; Cinta Lebih Besar daripada Monyet, saya mendapat ilmu yang keren punya tentang plot feminim dari Raditya Dika. Dan ini jadi pegangan saya dalam menulis fiksi. Saya akan membaginya sekarang ; cara membuat plot dengan metode 8 sequence.

Dari tiga sequence plot tadi, kita dapat memecahnya menjadi 8 sequence. Biar gampang, saya akan menjelaskan dengan Novel kedua saya, Detektif Sekolah, sebagai contohnya. Yuk kita mulai.

SETUP

Sequence 1. Dunia sempurna yang semu

Ada semacam kesemuan dalam kehidupan para karakter. Mereka terlihat menjalani kehidupan yang sempurna, tapi sebenarnya masih ada yang kurang dalam hidup mereka.

Contoh: Dalam Detektif Sekolah, 3 karakter utamanya yakni Momon, Bams, dan Tessa memiliki kehidupan yang terlihat sempurna, namun semu. Momon aktif di tim basket tapi hanya jadi pembantu. Bams aktif di OSIS tapi pemikirannya tak pernah dianggap. Tessa adalah juara kelas yang mulai bosan dengan rutinitasnya.

Sequence 2. Penyadaran

Pada fase ini karakter mulai sadar bahwa ada yang kurang dalam hidup mereka. Penyadaran mereka bisa timbul karena faktor tertentu.

Contoh : Momon, Bams, dan Tessa bertemu di taman belakang sekolah. Mereka saling menceritakan permasalahannya masing-masing. Hingga akhirnya mereka sadar, mereka butuh sesuatu yang baru. Sesuatu yang membuat mereka lebih berarti. Akhirnya mereka sepakat membuat satu kelompok Detektif.


Sequence 3. Persiapan Perjalanan

Pada tahap ini, setelah menyadari adanya sesuatu yang kurang di hidupnya, karakter mempersiapkan diri untuk melakukan “perjalanan” atau usaha untuk menyempurnakan hidupnya.

Contoh : Setelah membentuk tim detektif, agar cepat eksis, mereka memasang pamflet promosi segede gaban di papan mading sekolah. Harapannya jika ada anak yang memiliki masalah pelik, ia akan datang ke detektif sekolah. Benar saja, akhirnya mereka mendapatkan satu klien. Seorang gadis bernama Mila yang sering menerima surat cinta kaleng.

KLIMAKS

Sequence 4.  Naik ke atas

Para karakter seolah hampir berhasil menemukan apa yang ia cari. Mereka tampak bahagia. Padahal sejatinya, tahap ini merupakan persiapan menuju konflik puncak.

Contoh: Anak-anak detektif sekolah telah melakukan penyelidikan berhari-hari. Mereka bekerja keras untuk itu. Mereka merasa pintu kebenaran akan segera muncul, orang yang mengirim surat cinta kaleng itu bakal segera ketahuan.

Sequence 5. Mata badai

Klimaks dari cerita. Pada fase ini, para karakter dihadapkan pada kesulitan yang tinggi. Semua yang awalnya berjalan dengan baik, kemudian berantakan.

Contoh :  Detektif sekolah dihadapkan pada satu kenyataan, bahwa mereka melewatkan satu detail penting dalam penyelidikan surat cinta kaleng untuk Mila. Nahasnya, detail itu membuat kerja keras mereka enggak berarti. Artinya, apa yang mereka lakukan sia-sia.

Sequence 6. Kejatuhan

Setelah mendapatkan masalah yang pelik pada sequence 5, tahap ini para karakter menjalani kehidupannya dengan keadaan yang berantakan sebagai efek dari terpaan badai masalah sebelumnya. Bagai sebuah bencana alam, fase ini menceritakan keadaan lingkungan yang porak-poranda setelah bencana.

Contoh : Karena kesalahan mereka, anak-anak Detektif Sekolah jadi malas melanjutkan penyelidikan. Mereka galau.

KONKLUSI

Sequence 7. Kebangkitan

Fase ini adalah fase titik balik. Karakter yang tadi amburadul, kacau balau, berantakan, mencoba bangkit kembali dan berusaha mencapai tujuan awal.

Contoh: Detektif sekolah kembali bertemu. Mereka sadar, mereka sudah bergerak terlalu jauh, dan tak ingin mengecewakan Mila yang sangat berharap pada mereka. Mereka menata ulang strategi penyelidikan, dengan melengkapi detail-detail yang terlewat.

Sequence 8. Dunia yang sempurna

Masing-masing karakter telah menemukan sesuatu yang kurang atau hilang dalam hidupnya. Kesemuan yang tadi menyelimuti hidupnya, menghilang.

Contoh : Dengan strategi baru, akhirnya mereka berhasil menyelesaikan kasus Mila dengan memuaskan. Detektif sekolah sangat bahagia dapat menolong seseorang, ternyata hal tersebut mampu membuat mereka merasa berarti.

Kira-kira begitu teman-teman. Karena aliran saya adalah komedi, tentu saja cerita saya balur dengan nuansa komedi :)

Secara sekilas, metode 8 sequence dalam plot ini mengarah pada happy ending. Tapi sebenarnya enggak. Metode ini enggak ada hubungannya dengan ending yang akan kita ciptakan. Mau happy ending, sad ending, bahkan ending yang menggantung sekalipun dapat menggunakan sequence ini. Sekali lagi, metode penyusunan plot ini adalah sebuah mangkuk. Mau diisi apa mangkuk itu, ya terserah kita sebagai penulis kan? :)

Nah, segitu dulu aja dari saya ya. Semoga bermanfaat buat temen-temen. Sampai jumpa lagi di #YukNulis selanjutnya. Hmm, selanjutnya mungkin saya akan bercerita tentang karakter. See you soon!


#YukNulis
Abi With Love 





Thursday, 10 July 2014

[Review & Ucapan Terima Kasih] Sabtu Bersama Bapak



Sebagai penggemar berat Nadia Mulya, ehm, Adhitya Mulya, adalah sebuah dosa kalau saya enggak nge-review satupun buku Kang Adhit. Sebagai informasi, Kang Adhit adalah salah satu inspirator yang bahkan saya anggep sebagai guru dalam tapak karir kepenulisan saya di dunia komedi, selain Boim Lebon dan Hilman Hariwijaya. Sebagai rasa terima kasih untuk Kang Adhit, kali ini saya bakal nge-review buku terbarunya, Sabtu Bersama Bapak. ^_^

      Gambar diambil dari sini

Cerita diawali oleh Gunawan Garnida, seorang pengidap Kanker stadium akhir yang memiliki dua anak yang masih kecil, Satya dan Cakra. Sadar usianya udah enggak lama lagi, Gunawan membuat satu kenang-kenangan berharga untuk menemani kehidupan dua anaknya nanti. Dengan dibantu sang Istri, Gunawan membuat rekaman video dirinya yang berisi prinsip hidup, nilai-nilai, dan nasihat yang diharapkan mampu menjadi jawaban atas permasalahan anak-anaknya kelak.

Sepeninggal Gunawan, setiap hari sabtu sang istri memutarkan video-video tersebut di depan Satya dan Cakra. Hari sabtu menjadi hari favorit kedua anak itu, karena di hari itu mereka menghabiskan waktu bersama cerita Bapak yang kadang membuat mereka tertawa, terharu, dan merindu. Hingga halaman terakhir, novel ini membeberkan bagaimana Satya dan Cakra menjalani kehidupan dewasanya bersama video sang Bapak.

Setelah tampil mengecewakan pada Mencoba Sukses (sorry, Kang), saya mendapati buku ini dengan memasang harapan yang tinggi. Melihat ketebalan bukunya, saya berdoa agar ukuran font-nya enggak kaya Mencoba Sukses yang gedenya ya ampun banget. Ketika membaca blurb dihalaman belakang, saya bergumam heran, “Ini novel non-komedi ya? Kang Adhit serius nih?” Wajar, karena siapapun yang kenal dengan karya-karya Kang Adhit sebelumnya, pasti berharap ngakak ketika membaca bukunya.

Pertanyaan saya terjawab ketika mulai melahap buku ini. Halaman, demi halaman saya lalui dengan perasaan yang campur aduk. Gimana enggak, Coy, lewat buku ini Kang Adhit mencampur semua unsur yang ada. Komplit, Men! Mau cari apa? Komedi, ada. Drama, ada. Parenting, ada. Persiapan Pernikahan, ada. Semua ada, Men. Teknik debus aja yang enggak ada hehe. Dan ini brilian banget menurut saya. Mencampurkan beberapa tema dan berbagai pesan moral itu sangat berisiko. Kalau eksekusinya enggak bagus, cerita bisa kehilangan fokus. Jelinya, Kang Adhit membuat video sang Bapak menjadi batang pohon yang kokoh. Dan pesan-pesan yang disampaikan melalui kehidupan Satya dan Cakra berperan sebagai ranting-ranting yang membuat Sabtu Bersama Bapak menjadi pohon yang sempurna. Keren mamen.

Saya pribadi cukup mengikuti tulisan-tulisan Kang Adhit di blognya sejak zaman revolusi industri (pokoknya baheula bangetlah :p). Dan menurut saya, Sabtu Bersama Bapak bukan tentang seorang Gunawan Garnida, tapi tentang seorang Adhitya Mulya. Semua pesan dan nilai yang disampaikan lewat novel ini beliau banget. Bagi saya, novel yang baik adalah novel yang jujur. Dan saya merasakannya hal tersebut di Sabtu Bersama Bapak.

Novel ini cocok banget buat saya, yang baru aja jadi ayah. Cocok juga buat temen-temen yang lagi cari calon suami/istri, yang lagi merencanakan pernikahan, yang lagi menjalani awal pernikahan, yang udah punya anak banyak, semua deh. Sebab ngebaca novel ini rasanya kaya masuk toserba, barang-barang yang kamu cari ada semua, dan akhirnya keluar toko dengan senyum gemilang.

Akhir kata, terima kasih buat Kang Adhit yang udah nulis buku yang lengkap ini, terima kasih juga udah menjadi guru saya dalam menulis. Ditunggu selalu karya-karyanya, Kang. Sukseus!!


_Dimas Abi_

Monday, 16 June 2014

[Give Away] Buku Gratis dari Bukune

Lo suka girl band Korea, Men? 
Penggalan dialog tersebut pasti enggak asing buat temen-temen yang udah baca novel terbaru saya, Idolku Cantik. Yap, itu adalah adegan saat Cinta mengejar Rangga di Bandara. *gagal move on dari AADC*
 
Idolku Cantik, dapatkan di toko buku favorit gebetan kamu

Jadi, saya bawa kabar gembira nih buat temen-temen yang udah baca Idolku Cantik. Saya, bersama Bukune, mau berbagi sesuatu dengan kalian semua. Itung-itung sebagai wujud terima kasih karena kalian udah membaca dan membagi senyum kalian terhadap karya saya (^_^)v.
 
Nah, kita mau bagi-bagi paket buku komedi dari penerbit Bukune kepada lima pembaca terpilih! Caranya gimana? Gampang, Men. Duduk manis ya, begini caranya :

1.    Bikin sebuah review novel Idolku Cantik. Review tersebut bisa kalian pajang di blog 
       kalian, atau di Goodreads pada link ini.
2.    Setelah selesai bikin review, kabarin Saya dan Bukune lewat twitter dengan format:
       [Review #IdolkuCantik] “Judul Postingan” “link” cc:@dimasabiaufan @bukune.
3.    Review kalian kami tunggu sampai 28 Juli 2014, bertepatan dengan Lebaran.
4.    5 Review terbaik berhak mendapatkan paket buku komedi dari Bukune. Asik kan? 
       Lebaran-lebaran selain dapet pacar dan baju baru, dapet paket buku pula!
 
So, tunggu apa lagi. Buat yang udah punya bukunya, tinggal bikin reviewnya! Buat yang belum punya, todong pacar kalian buat ngebeliin, sekalian ngetes seberapa besar cintanya ke kamu. *lah?*
 
Baiklah, terima kasih ya teman-teman, ditunggu ya review kalian! ^_^


Terima kasih pembaca
_Abi with love_

Thursday, 8 May 2014

[Coming Soon] Idolku Cantik

Halo Reks, I’m back!
Yes, I’m back with a new book. Seperti yang udah saya tulis sebelumnya, saya lagi menggarap satu project novel, dan alhamdulillah sekarang udah kelar. Artinya, sebentar lagi buku saya bakal nampang di toko buku. Yoi mamen, ternyata rasanya tetep sama. Deg-degan, antusias, sekaligus bahagia. Mirip-mirip jatuh cinta tapi enggak sampe ngomong sama tembok tiap hari. (Lah, itu jatuh cinta?)
Project ini berawal ketika saya ikut sunday meeting-nya Gagas Media and friends. Sebagai info, sunday meeting ini adalah acara kumpul-kumpul penulis Gagas Media and friends yang enggak cuma kumpul doang, tapi ada pembicara yang menyampaikan materi-materi cihuy tentang kepenulisan dan dunia di sekitarnya. Acaranya seru, jadi buat temen-temen penulis Gagas and friends yang belum pernah ikut, buruan ikut. Apalagi buat yang jomlo, siapa tau nemu tantangan baru.
Oke, kembali ke topik. Saat sunday meeting itu Mbak Iwied, editor buku saya sebelumnya; Detektif Sekolah, memperkenalkan saya denggan Elly, editor komedi Bukune.  Dan seorang editor kalo ketemu penulis pasti nanya, “Lagi nulis apa nih sekarang?”

Ditanya begitu, saya langung mikir. Naskah apa ya? Sebenarnya kegiatan nulis saya waktu itu naik turun cenderung terbengkalai seiring kesibukan kantor. Elly menambahakan bahwa tahun ini Bukune mau bergerak di genre fiksi komedi. Wew, cocok banget tuh dengan aliran saya selama ini kan? Saya ingat, saya punya naskah yang terputus di tengah jalan. Ya, salah satu penyakit penulis adalah naskah yang tak sampai. Eh, macam lagu ya?

Saya coba menjelaskan konsep cerita saya itu, dan ternyata Elly tertarik. Dan hasilnya? Viola!


Idolku Cantik: Dilema si Tampang Rambo, Hati Lee Min Ho

Ide cerita novel ini berangkat dari hasil observasi pribadi. (Cie, observasi). Enggak sih, sebenernya ide dasarnya berasal dari hal yang simpel. Saya punya temen yang malu mengakui bahwa dia adalah penggemar SNSD, dengan alasan kurang jantan. (Ayam kali jantan). Tahu dong SNSD, itu loh girl band korea yang kalo nari bikin laki-laki berubah pikirian. Padahal kenapa malu coba? Normal-normal aja suka sama SNSD. Yang enggak normal tuh suka sama seseorang yang udah jelas-jelas nyakitin kita. Eh?

Nah, hal itu mengusik sukma saya untuk menuliskannya. (Widii, keren abis bahasa saya).
Idolku Cantik menceritakan kisah anak manusia bernama Kiko Kalingga, seorang Presiden BEM, sosok yang paling terkenal di kampusnya, tapi menyimpan rahasia kalau ia sangat tergila-gila sama SNSD. Ya dong, masa Presiden BEM doyan SNSD? Dan masalah timbul ketika ia menggebet seorang K-pop haters. Apakah Kiko akan berhasil? Dapatkan di toko buku kesayangan anda. Whahaha…

Di buku ini saya tetap setia pada aliran saya, komedi. Harapannya jelas, ketika teman-teman membaca buku saya, ada senyum yang merekah. Saya masih dan akan terus percaya bahwa senyum bahagia dapat mengurangi beban masalah kita. Sesuai dengan prinsip menulis saya, Writing to make people smile, melalui karya saya ini, saya ingin berbagi senyuman pada teman-teman semua.

So, ditunggu ya! Dalam waktu dekat Idolku Cantik akan beredar di dekatmu. Akan saya update lagi kapan tepatnya.

Ah, satu lagi. Saat ini saya terlibat dalam satu project kerjasama antara Bukune dan Fanbase salah satu idola korea. Nah, ini juga menarik. Seperti apa projectnya? Tunggu ya! Hihihi… saya produktif banget tahun ini.

Coming Soon

_Abi with Love_



 

Friday, 4 April 2014

[Review] The Raid 2 : Berandal


Sekali lagi Bang Gareth Evans (biar akrab) sukses bikin saya merem melek pas nonton the Raid. Gimana enggak, dalam durasi dua setengah jam  kita disuguhkan adegan action super brutal yang bikin gigi ngilu.

Gambar dipinjem di sini

Kalau ada sequel sebuah film, secara refleks kita pasti ngebandingin ama film terdahulunya. Begitu juga dengan The Raid 2 : Berandal. Kalo menurut saya, dan kayanya emang harus bahwa sebuah sequel wajib memberikan hal yang baru, lebih besar, dan lebih seru dari seri pertamanya. Dan usaha Bang Gareth patut diapresiasi. Doski udah berhasil membuat The Raid menjadi lebih megah, kompleks, dan seru dari segala sisi; cast, cerita, dan action.

Argo The Raid 2 dimulai dari beberapa jam setelah penyerbuan sarang penyamun yang menewaskan Joe Taslim dan kawan-kawan. Rama (Iko Uwais) bertemu dengan Bunawar (Cok Simbara), semacam agen rahasia internal kepolisian yang tugasnya mengungkap kebusukan polisi hitam. Ternyata, barang bukti yang dibawa Rama enggak bernilai untuk membongkar kejahatan yang terjadi. Rama harus berada dalam komunitas mereka, artinya ia harus menyamar. Semula Rama menolak, namun ia berubah pikiran setelah sang kakak (Donny Alamsyah) tewas ditangan Bejo (Alex Abbad) seorang gangster muda yang ambisius. Dan petualangan Rama dimulai.

The Raid 2 mengusung aktor dan aktris kelas wahid Indonesia lintas generasi. Dari yang uzur macam Tio Pakusadewo, Roy Marten, Cok Simbara (yang bikin saya jadi inget Sinetron Noktah Merah Perkawinan) sampai yang kulitnya masih kenceng kaya Iko Uwais, Oka Antara, Arifin Putra, dan Julie Estelle.

Dengan jajaran pemain seperti itu, rasanya wajar jika The raid 2 lebih bercerita. Enggak kaya The Raid yang begitu mulai langsung gedebag-gedebug sampe akhir. The raid 2 membuat masing-masing karakter lebih berisi. Kemampuan acting cast-nya menjadi sorotan tersendiri. Ibaratnya, kalo di The Raid, cast-nya enggak perlu jago acting, yang penting bisa salto dan mukul orang. Tapi kalo di The Raid 2, acting castnya bener-bener dinilai, Men. Dan itu positif. 

Saya setuju, kredit terbesar layak diberikan pada Arifin Putra. Dia bermain dengan keren. Dan yang paling mengejutkan saya adalah sang Hammer Girl, Julie Estelle. She’s my fave. Walau dia udah getok cowok-cowok pake palu, she’s still my fave.

Neng, dangdu..... e-enggak jadi deh.
sumber di sini

Actionnya gokil! Kalo ada yang bilang di Indonesia enggak mungkin bikin Fast to Furious, mereka salah. Bang Gareth bikin adegan kejar-kejaran mobil paling fenomenal dalam sejarah saya nonton film Indonesia! Adegan fight di penjara, KRL, gedung tua, dapur, semua dahsyat. Memang tingkat kesadisannya bikin saya merem melek, tapi harus saya akui, itu keren mamen. Selain itu, menurut saya semua adegan fightnya sangat mendukung cerita. Kan ada tuh, film yang banyak adegan fightnya, tapi kalo adegan itu dihilangkan, enggak memberikan efek apapun ke cerita. The Raid 2 beda. Saya coba membayangkan kalau satu adegan fight dihilangkan, cerita jadi bolong.

The Raid 2 enggak bebas dari kesalahan. Ada beberapa dialog yang meleset. Kaya misalnya dialognya Cok Simbara, dalam satu kalimat dia pake “gue” dan “saya”. Tapi menurut saya itu, minor kok. Bagaimana dengan turunnya Salju? Yes, di Indonesia emang enggak ada salju. Banyak pro dan kontra tentang itu di Internet. Tapi sekali lagi, menurut saya itu minor. Kan keren juga kalo Indonesia ada salju. Hehe..

Secara umum The Raid 2 mengalami peningkatan di semua aspek dibandingkan dengan pendahulunya. Dan semoga aja bakal ada The Raid 3! Aamin.  ^_^



Sini bolanya.
_Abi with love_

Tuesday, 25 March 2014

Project: Blog & Novel

Salam gaul!
 
Saya lagi ngerjain dua project solo nih. Bukan, bukan di bidang tarik suara. Bukan juga di bidang tata boga, apa lagi di bidang konstruksi bangunan.
 
Yes, it’s all about writing. Writing to make people smile.
 
Project pertama, Blog.
Saya udah ngeblog sejak maret 2008. Yoi, sejak enam tahun yang lalu, Men. Dan kalau dipandang dari segi umur, ini blog udah termasuk uzur. Yang saya sayangkan, keuzurannya enggak dibarengi dengan produktivitas maksimal. Saya update blog seluangnya aja, kadang sebulan bisa banyak, kadang hiatus berbulan-bulan. Rekor terburuk di tahun 2013, saya cuma posting dua tulisan! Sayang sekali.
 
Tapi, enggak ada kata terlambat untuk berubah kan? So, mulai saat ini saya menata komitmen untuk  meramaikan kembali blog saya yang unyu-unyu seksi inih. Sebagai langkah awal, tampilan blog saya bikin lebih segar. Iya sih, masih pake fasilitas template asli blogger, dan saya cuma ngedit warna aja, tapi perubahan sekecil apapun tetap bikin rasa yang berbeda kan? Saya juga udah bikin banner yang baru. Tuh liat di atas, asoy ga? Cakep kan? Makasih. *ngasih lima ribu.
 
Nah, perubahan paling signifikan adalah: Saya udah punya nama domain sendiri! Dengan ini, saya resmikan domain blog saya, jreng… jreeeeng…


Saya berharap, dengan nama yang baru, menghasilkan semangat yang baru, dan tulisan-tulisan yang membuat teman-teman tersenyum. ^_^
 
Project kedua, Novel. 
Saat ini novel terbaru saya sedang dalam proses di dapur penerbit. Saya belum bisa kasih tahu judulnya, karena memang judulnya belum fix hehehe…, masih dalam tahap pendiskusian.
 
Saya akan share sedikit. Novel saya kali ini mengusung genre komedi romantis. Kenapa komedi? Karena memang dari awal saya fokus di ranah komedi. Saya sangat menikmatinya, writing to make people smile. Dan kenapa romantis? Karena saya romantis. *minta digebugin*. Tema percintaan enggak pernah usang di makan zaman kan? Selalu asyik untuk dibaca. Kapan-kapan saya bahas lebih lanjut tentang tema percintaan ini.
 
Novel ini berangkat dari ide yang sederhana. Kisah cintanya (mungkin) klasik, tapi delivery-nya itu lho, Dimas Abi banget. *ya iyalah, gue yang nulis*. Seperti biasa, banyak karakter ngehe, rese, dan bangke yang saya tampilkan. Semoga aja mampu menghibur teman-teman ya. #enggak sabar.
 
Kalau ada perkembangan tentang novel, akan segera saya update. So, jangan pindah chanel!

Semoga sukses.
_Abi With Love_

Saturday, 8 March 2014

Berkarya = Menggalau

Pernah nggak, kita membaca buku atau menonton film dan ketika sampai pada ending, kita misuh-misuh?

Damn, keren banget! Padahal ide ceritanya simple.

Pernah nonton Summer Time Machine Blues? Sebuah film tentang sekelompok anak muda yang menembus perjalanan waktu hanya untuk mencari remote AC yang hilang. Men, pake mesin waktu buat nyari remote AC, sederhana banget! Simple but cool, salah satu film Jepang terkeren yang pernah saya tonton.

Kalau di negri kita tercinta ini, film Janji Joni bisa dimasukkan. Ceritanya simple abis, tentang janji seorang pengantar roll film untuk selalu mengantarkan roll tepat pada waktunya. Dan setelah nonton itu saya menganga, film itu gokil banget, Men.

So, apa yang membuat ide sederhana bisa dieksekusi jadi karya yang ciamik?
Bisa jadi banyak hal, tapi menurut saya, ada satu hal utama di atas segalanya, yakni; masukkan kegalauan dalam ide tersebut. Ya, kegalauan (bukan keg4l4u4n), itu yang bikin sebuah karya punya ruh.

Coba lihat Janji Joni, Joko Anwar menaruh banyak kegalauanya tentang dunia film dari segala sisi. Pada bagian awal film kita udah disodorin kegalauan Joko tentang tipe-tipe penonton bioskop, kegalauan tentang tahap pembuatan film, dan berbagai kegalauan disuguhkan hingga akhir film, membuat film terasa padat bergizi.

Pertanyaan selanjutnya, mengapa karya yang padat galau menjadi karya yang selalu menimbulkan kesan tersendiri bagi saya? Atau mungkin bagi kamu? Setuju atau nggak, karya atas dasar kegalauan adalah karya yang datang dari kejujuran. Ketika saya menikmati karya tersebut, saya merasa ada di dalamnya, saya merasa menjadi bagian di dalamnya, saya merasa ‘oh ini karya kok gue banget ya?’.
  

Akhirnya, mau ide kamu sederhana, rumit, klise, unik, atau apapun, tetap bisa menjadi sebuah karya yang ciamik ketika kamu menumpahkan kejujuranmu di sana, menuangkan kegalauanmu di sana. Kegalauan adalah pondasi utama, selebihnya tinggal menyusun dan merapihkan bangunan cerita kita.

Selamat mencoba. Selamat mencari kegalauan. ^_^

Hidup Galau!
_Abi with love_

Saturday, 8 February 2014

(Review) Comic 8

Film yang satu ini udah beredar sejak akhir Januari kemarin dan hingga saat ini jumlah penontonnya bikin rekor tersendiri. Di saat geliat film komedi gitu-gitu aja, comic 8 datang dan mengacak-acak bioskop di tanah air. Berita baik untuk kita semua tentunya, dan sebagai penulis fiksi komedi (sedap!) kayanya berdosa kalau saya enggak me-review film ini.
 sumber: di sini

Saya akan me-review film ini sebagai penonton, bukan sebagai kritikus film, karena ilmu saya tentang dunia layar lebar masih cetek kaya nilai mata kuliah Rangkaian Listrik saya dulu. Ehm,

Secara garis besar, film ini menceritakan 3 kelompok pemuda yang tak saling kenal satu sama lain, memiliki latar belakang kehidupan yang beda, namun memiliki niat yang sama di hari yang sama; merampok bank! Walau awalnya mereka berseteru, mereka akhirnya bersatu untuk kabur dari kepungan polisi. Sebuah konsep cerita yang sangat jelas dan menarik untuk sebuah film komedi. 

Cerita Comic 8 semakin menggigit karena dibalur dengan alur maju-mundur yang pas, membuat kita enggak hanya menikmatinya tapi juga berpikir. Dan kabar baik untuk pecinta twist pada film, Comic 8 juga menyajikannya! Hey, twist dalam film komedi? Film komedi indonesia? Ya, bagi saya, ini adalah sesuatu yang gokil.

Comic 8 membawa 8 komika yang sering wara-wiri di Kompas TV & Metro TV sebagai pemeran utamanya (Fico, Babe, Bintang, Ernest, Arie Kriting, Kemal, Mongol, & Mudy). 8 Orang mamen, itu jumlah yang banyak dan sangat beresiko. Kalau eksekusinya baik, hasilnya The Avangers. Kalau eksekusinya buruk, hasilnya Boyband Boyzone; yang nyanyi 1 orang, yang lain backing vocal. Dan untuk comic 8 eksekusinya cukup baik, walau belum sempurna. Dominasi karakter kadang masih terasa, but that's okay. Usaha Anggy Umbara patut diapresiasi.

Kalo ngelihat adegan tembak-tembakan di dalamnya, kerasa banget kalau film ini digarap dengan serius. Film action banget. Tapi sayang ada satu hal yang rada mengganggu, kenapa dengan segitu brutalnya tembak-tembakan, enggak ada satupun yang kena sasaran? hehe... 

Secara umum konten komedi yang mereka mainkan sukses membuat saya tergelak walau masih ada yang nanggung. Banyak sindiran-sindiran kehidupan yang mampu bikin kita mengangguk geli. Kalau diizinkan memilih, sorotan  layak dilayangkan untuk Babe Cabiita. Setiap gerakan, ucapan, bahkan mungkin setiap nafasnya bikin kita ngakak. Doski tampil oke. 
sumber: di sini
Butuh lem prangko? Tempelin aje ke Babe!

Bagaimana dengan Nikita Mirzani? Yang banyak dibahas anak-anak netizen itu? Sayang sekali, enggak saya bahas. Saya nge-review film, bukan infotainment. Hehe... saran saya sih, tontonlah film sebagai sebuah film, karena dengan itu kita jadi bisa lebih menikmatinya. Setuju? :)

So, ini sebuah awal yang baik untuk dunia perfilman komedi Indonesia. Konsep cerita apik, cast mumpuni, eksekusi oke. Film komedi indonesia butuh kesegaran semacam ini. So, mumpung layar bioskop masih rame yang mutar film ini, buruan nonton Coy.


Review Awam
_Abie with Love_  

Monday, 20 January 2014

Bini dan Instagram


Sejak kemunculan instagram, penduduk dunia seolah terbius dan rame-rame download aplikasi itu. Hingga detik ini, jumlah penggunanya udah luar biasa banyak kaya fansnya Wali. Kalo enggak percaya itung sendiri. Hal itu seenggaknya membuktikan kalau narsis adalah kebutuhan primer buat manusia. Dan kedatangan aplikasi sharing kenarsisan itu tanpa disadari menyentuh prilaku kita sehari-hari. 

Termasuk prilaku istri saya alias si bini.

Setelah puas menjalani hobi bikin cerpen di status Facebook dan di-like sendiri, mungkin ada baiknya nyoba social media yang satu ini pikirnya.

Tau hp Samsung galaxy jadulnya itu recommended untuk diinstall instagram, doski langsung install tanpa izin. *lah, ngapain juga install pake izin. Setelah itu bisa ditebak, si bini langsung upload beberapa fotonya sendiri dan di-like sendiri. *di-like sendiri mamen, enggak ngerti dah gue.

Tapi akhir-akhir ini, si bini udah jarang megang HPnya itu. Dia lebih milih megang galaxy tab punya saya dan ngebuka instagram di sana. Hati ini tergelitik untuk bertanya,

“Kok sekarang jarang buka instagram di HP kamu sih?”
“Enak ini, Mas. Layarnya gede.”
“Oh.”

Logis.

Tapi setelah diperhatikan, ternyata si bini enggak buka akun instagram miliknya, tapi akun saya!
 
Mampus, jangan-jangan si bini curiga kalo saya melakukan hal-hal yang mengundang piring beterbangan. Saya lihat si bini kemudian ketawa-ketiwi sendiri. Fyuh, pertanda baik, enggak ada piring yang melayang malam ini.

Prilaku ini berlanjut tiap hari. Saya penasaran dong, apa sih yang bikin si bini gandrung bener sama akun saya. Saya ambil galaxy tab, dan langsung ngecek timeline. Saya terhenyak sodara-sodara,

“Ndut, ini kenapa timeline aku isinya jadi foto sepatu ama tas semua?”

Si bini nyengir. Ternyata doski follow banyak banget akun online shop.

“Kenapa follownya enggak pake akun kamu aja?”
“Ribet, Mas. Harus log out, log in.”
“Yaelah, apa susahnya sih.”
“Aku lupa passwordnya, Mas.”
“Oke.” *mati kutu.

Kemudian saya mempertanyakan kenapa harus follow akun online shop sebanyak itu.

“Buat inspirasi bisnis, Mas.”
“…..”
“Yang ini lucu lho, Mas. Murah lagi, aku beli ya.”
“…..”

Sekarang si bini udah bosan ngelihat akun instagram saya. Selain karena akun-akun online shopnya udah saya unfollow, dia bosan ngelihat timeline saya yang monoton.

“Mas, bosen aku lihat instagram kamu. Isinya kalo enggak Sandra Dewi, ya Pevita Pearce. Ini lagi, ngapain kamu follow Kim Kadarsih.”

Hah? Kim Kadarsih?
 
Mendengar itu secara reflek otak saya membayangkan Titi Qadarsih. Tau enggak Titi Qadarsih? Nih.
sumber di sini


Setelah saya cek, saya menolak pernyataan si bini dengan tegas.
“Ini Kim Kardashian, bukan Kim Kadarsih.”
“Ah, ya itulah pokoknya.” Jawab si bini sambil ngeloyor pergi.
“…..”

Dan sekarang si bini punya mainan baru; Path.


_Bini oh Bini_
Abie With Love