Friday, 4 April 2014

[Review] The Raid 2 : Berandal


Sekali lagi Bang Gareth Evans (biar akrab) sukses bikin saya merem melek pas nonton the Raid. Gimana enggak, dalam durasi dua setengah jam  kita disuguhkan adegan action super brutal yang bikin gigi ngilu.

Gambar dipinjem di sini

Kalau ada sequel sebuah film, secara refleks kita pasti ngebandingin ama film terdahulunya. Begitu juga dengan The Raid 2 : Berandal. Kalo menurut saya, dan kayanya emang harus bahwa sebuah sequel wajib memberikan hal yang baru, lebih besar, dan lebih seru dari seri pertamanya. Dan usaha Bang Gareth patut diapresiasi. Doski udah berhasil membuat The Raid menjadi lebih megah, kompleks, dan seru dari segala sisi; cast, cerita, dan action.

Argo The Raid 2 dimulai dari beberapa jam setelah penyerbuan sarang penyamun yang menewaskan Joe Taslim dan kawan-kawan. Rama (Iko Uwais) bertemu dengan Bunawar (Cok Simbara), semacam agen rahasia internal kepolisian yang tugasnya mengungkap kebusukan polisi hitam. Ternyata, barang bukti yang dibawa Rama enggak bernilai untuk membongkar kejahatan yang terjadi. Rama harus berada dalam komunitas mereka, artinya ia harus menyamar. Semula Rama menolak, namun ia berubah pikiran setelah sang kakak (Donny Alamsyah) tewas ditangan Bejo (Alex Abbad) seorang gangster muda yang ambisius. Dan petualangan Rama dimulai.

The Raid 2 mengusung aktor dan aktris kelas wahid Indonesia lintas generasi. Dari yang uzur macam Tio Pakusadewo, Roy Marten, Cok Simbara (yang bikin saya jadi inget Sinetron Noktah Merah Perkawinan) sampai yang kulitnya masih kenceng kaya Iko Uwais, Oka Antara, Arifin Putra, dan Julie Estelle.

Dengan jajaran pemain seperti itu, rasanya wajar jika The raid 2 lebih bercerita. Enggak kaya The Raid yang begitu mulai langsung gedebag-gedebug sampe akhir. The raid 2 membuat masing-masing karakter lebih berisi. Kemampuan acting cast-nya menjadi sorotan tersendiri. Ibaratnya, kalo di The Raid, cast-nya enggak perlu jago acting, yang penting bisa salto dan mukul orang. Tapi kalo di The Raid 2, acting castnya bener-bener dinilai, Men. Dan itu positif. 

Saya setuju, kredit terbesar layak diberikan pada Arifin Putra. Dia bermain dengan keren. Dan yang paling mengejutkan saya adalah sang Hammer Girl, Julie Estelle. She’s my fave. Walau dia udah getok cowok-cowok pake palu, she’s still my fave.

Neng, dangdu..... e-enggak jadi deh.
sumber di sini

Actionnya gokil! Kalo ada yang bilang di Indonesia enggak mungkin bikin Fast to Furious, mereka salah. Bang Gareth bikin adegan kejar-kejaran mobil paling fenomenal dalam sejarah saya nonton film Indonesia! Adegan fight di penjara, KRL, gedung tua, dapur, semua dahsyat. Memang tingkat kesadisannya bikin saya merem melek, tapi harus saya akui, itu keren mamen. Selain itu, menurut saya semua adegan fightnya sangat mendukung cerita. Kan ada tuh, film yang banyak adegan fightnya, tapi kalo adegan itu dihilangkan, enggak memberikan efek apapun ke cerita. The Raid 2 beda. Saya coba membayangkan kalau satu adegan fight dihilangkan, cerita jadi bolong.

The Raid 2 enggak bebas dari kesalahan. Ada beberapa dialog yang meleset. Kaya misalnya dialognya Cok Simbara, dalam satu kalimat dia pake “gue” dan “saya”. Tapi menurut saya itu, minor kok. Bagaimana dengan turunnya Salju? Yes, di Indonesia emang enggak ada salju. Banyak pro dan kontra tentang itu di Internet. Tapi sekali lagi, menurut saya itu minor. Kan keren juga kalo Indonesia ada salju. Hehe..

Secara umum The Raid 2 mengalami peningkatan di semua aspek dibandingkan dengan pendahulunya. Dan semoga aja bakal ada The Raid 3! Aamin.  ^_^



Sini bolanya.
_Abi with love_