Thursday, 10 July 2014

[Review & Ucapan Terima Kasih] Sabtu Bersama Bapak



Sebagai penggemar berat Nadia Mulya, ehm, Adhitya Mulya, adalah sebuah dosa kalau saya enggak nge-review satupun buku Kang Adhit. Sebagai informasi, Kang Adhit adalah salah satu inspirator yang bahkan saya anggep sebagai guru dalam tapak karir kepenulisan saya di dunia komedi, selain Boim Lebon dan Hilman Hariwijaya. Sebagai rasa terima kasih untuk Kang Adhit, kali ini saya bakal nge-review buku terbarunya, Sabtu Bersama Bapak. ^_^

      Gambar diambil dari sini

Cerita diawali oleh Gunawan Garnida, seorang pengidap Kanker stadium akhir yang memiliki dua anak yang masih kecil, Satya dan Cakra. Sadar usianya udah enggak lama lagi, Gunawan membuat satu kenang-kenangan berharga untuk menemani kehidupan dua anaknya nanti. Dengan dibantu sang Istri, Gunawan membuat rekaman video dirinya yang berisi prinsip hidup, nilai-nilai, dan nasihat yang diharapkan mampu menjadi jawaban atas permasalahan anak-anaknya kelak.

Sepeninggal Gunawan, setiap hari sabtu sang istri memutarkan video-video tersebut di depan Satya dan Cakra. Hari sabtu menjadi hari favorit kedua anak itu, karena di hari itu mereka menghabiskan waktu bersama cerita Bapak yang kadang membuat mereka tertawa, terharu, dan merindu. Hingga halaman terakhir, novel ini membeberkan bagaimana Satya dan Cakra menjalani kehidupan dewasanya bersama video sang Bapak.

Setelah tampil mengecewakan pada Mencoba Sukses (sorry, Kang), saya mendapati buku ini dengan memasang harapan yang tinggi. Melihat ketebalan bukunya, saya berdoa agar ukuran font-nya enggak kaya Mencoba Sukses yang gedenya ya ampun banget. Ketika membaca blurb dihalaman belakang, saya bergumam heran, “Ini novel non-komedi ya? Kang Adhit serius nih?” Wajar, karena siapapun yang kenal dengan karya-karya Kang Adhit sebelumnya, pasti berharap ngakak ketika membaca bukunya.

Pertanyaan saya terjawab ketika mulai melahap buku ini. Halaman, demi halaman saya lalui dengan perasaan yang campur aduk. Gimana enggak, Coy, lewat buku ini Kang Adhit mencampur semua unsur yang ada. Komplit, Men! Mau cari apa? Komedi, ada. Drama, ada. Parenting, ada. Persiapan Pernikahan, ada. Semua ada, Men. Teknik debus aja yang enggak ada hehe. Dan ini brilian banget menurut saya. Mencampurkan beberapa tema dan berbagai pesan moral itu sangat berisiko. Kalau eksekusinya enggak bagus, cerita bisa kehilangan fokus. Jelinya, Kang Adhit membuat video sang Bapak menjadi batang pohon yang kokoh. Dan pesan-pesan yang disampaikan melalui kehidupan Satya dan Cakra berperan sebagai ranting-ranting yang membuat Sabtu Bersama Bapak menjadi pohon yang sempurna. Keren mamen.

Saya pribadi cukup mengikuti tulisan-tulisan Kang Adhit di blognya sejak zaman revolusi industri (pokoknya baheula bangetlah :p). Dan menurut saya, Sabtu Bersama Bapak bukan tentang seorang Gunawan Garnida, tapi tentang seorang Adhitya Mulya. Semua pesan dan nilai yang disampaikan lewat novel ini beliau banget. Bagi saya, novel yang baik adalah novel yang jujur. Dan saya merasakannya hal tersebut di Sabtu Bersama Bapak.

Novel ini cocok banget buat saya, yang baru aja jadi ayah. Cocok juga buat temen-temen yang lagi cari calon suami/istri, yang lagi merencanakan pernikahan, yang lagi menjalani awal pernikahan, yang udah punya anak banyak, semua deh. Sebab ngebaca novel ini rasanya kaya masuk toserba, barang-barang yang kamu cari ada semua, dan akhirnya keluar toko dengan senyum gemilang.

Akhir kata, terima kasih buat Kang Adhit yang udah nulis buku yang lengkap ini, terima kasih juga udah menjadi guru saya dalam menulis. Ditunggu selalu karya-karyanya, Kang. Sukseus!!


_Dimas Abi_